Abu?
Siapa tuh? Apaan tuh? Produk apalagi nih?
Abu adalah seekor kucing kampung biasa. Ada keyakinan jika ia merupakan anak dari kucing blasteran (si Bapak, Pak Po) dengan kucing kampung biasa (si Ibu). Jadi Abu hanyalah seekor kucing.
Namun yang membuatnya spesial adalah, banyak orang yang menyukai Abu. Di Jalan perumahan saya saja ada 3 rumah termasuk rumah saya yang sering memberinya makan. Jadi bisa dikatakan bahwa dia adalah kucing yang loveable.
Perjalanan Abu hingga menjadi kucing tercinta kami cukup unik. Mulanya si Ibu (kucing betina yang warnanya hitam total) melahirkan Abu dan saudara-saudaranya di sekitar garasi rumah. Mereka hidup di kolong mobil dan kadang berada di sekitar chasis, ban dan mesin mobil. Menurut istri saya, saudara-saudara Abu yang berjumlah 3 ekor (sama Abu jadi 4 ekor) lucu-lucu tampangnya, dan mau dipegang orang saat umurnya baru satu bulan. Semua saudaranya mau dipegang orang saat itu, kecuali Abu....hehehe.
Tampilkan postingan dengan label Berkeluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berkeluarga. Tampilkan semua postingan
Minggu, Juni 05, 2011
Sabtu, Mei 28, 2011
Bersyukur Atas Berbayarnya Epaper Kompas
Mulai 1 Mei 2011 membaca kompas secara digital lewat epaper.kompas.com sudah tidak gratis lagi alias bayar. Tarif yang dikenakan adalah Rp 50.000 per bulan atau Rp 500.000 per tahun.
Memang tarif tersebut masih lebih murah daripada langganan koran kompas harian. Tapi saya sebagai orang yang menghargai produk gratisan tidak berminat membayar tarif yang ditentukan tersebut. Akhirnya mulai 1 Mei 2011 saya tidak dapat lagi membaca kompas secara digital.
Namun saya bersyukur dengan ditutupnya layanan epaper kompas secara gratis. Kenapa bersyukur? karena selama ini saya membaca harian kompas hanya mencari promo apa yang sedang ditawarkan para produsen atau distributor saat ini. Misalkan ada promo midnight sale atau launching promo produk elektronik yang tentunya akan membuat istri atau saya datang ke tempat midnight sale atau promo tersebut.
Memang tarif tersebut masih lebih murah daripada langganan koran kompas harian. Tapi saya sebagai orang yang menghargai produk gratisan tidak berminat membayar tarif yang ditentukan tersebut. Akhirnya mulai 1 Mei 2011 saya tidak dapat lagi membaca kompas secara digital.
Namun saya bersyukur dengan ditutupnya layanan epaper kompas secara gratis. Kenapa bersyukur? karena selama ini saya membaca harian kompas hanya mencari promo apa yang sedang ditawarkan para produsen atau distributor saat ini. Misalkan ada promo midnight sale atau launching promo produk elektronik yang tentunya akan membuat istri atau saya datang ke tempat midnight sale atau promo tersebut.
Label:
Berkeluarga
Kamis, Mei 26, 2011
Lari 50 Km Sebulan
50 Km? Wah jauh banget! Langsung tuh larinya?
Ya gak lah, kan dalam sebulan. Kalo sebulan 30 hari, artinya kalo tiap hari lari paling gak harus lari 1,5 - 2 km untuk mencapai 50 km.
Oh kalo gitu mah biasa......
Betul, memang biasa, yang gak biasa adalah disiplin lari 1,5 - 2 km per hari yang sulit dimaintain.
Terus terang baru bulan Mei 2011 ini saya berhasil berlari secara total sejauh 50 km. Memang selama ini pernah juga lari, tapi gak pernah dihitung dan rasanya blom pernah yang totalnya 50 km sebulan.
Ya gak lah, kan dalam sebulan. Kalo sebulan 30 hari, artinya kalo tiap hari lari paling gak harus lari 1,5 - 2 km untuk mencapai 50 km.
Oh kalo gitu mah biasa......
Betul, memang biasa, yang gak biasa adalah disiplin lari 1,5 - 2 km per hari yang sulit dimaintain.
Terus terang baru bulan Mei 2011 ini saya berhasil berlari secara total sejauh 50 km. Memang selama ini pernah juga lari, tapi gak pernah dihitung dan rasanya blom pernah yang totalnya 50 km sebulan.
Label:
Berkeluarga
Jumat, April 01, 2011
Family Trip to Kuala Lumpur (8th - Cost - End)
Setelah bercerita mengenai pengalaman liburan ke Kuala Lumpur dalam tujuh edisi, maka sampailah kita kepada edisi terakhir, yaitu rangkuman biaya perjalanan yang diceritakan panjang lebar tersebut. Untuk memulainya, marilah kita melihat satu-satu komponen biayanya.
Yang paling awal menjadi patokan adalah harga tiket pesawat dan perjalanan menuju dan dari bandara, baik di Soekarno-Hatta, Cengkareng maupun di Low Cost Carrier Terminal, Kuala Lumpur. Tiket pesawat yang kami beli online di Air Asia, beserta add-on bagasi dan skybus adalah sekitar Rp 900 ribu per 2 orang, dengan kata lain sekitar Rp 450 ribu per orang. Airport tax bandara Soekarno-Hatta adalah Rp 150 ribu per orang. Sedangkan biaya perjalanan bolak-balik dari rumah menuju bandara Soekarno-Hatta bervariasi, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per trip. Untuk per orang rata-rata memakan biaya Rp 50 ribu. Jadi biaya total yang berhubungan dengan bandara adalah Rp 650 ribu per orang. Dengan jumlah peserta trip sembilan orang, maka biaya keseluruhan menjadi adalah Rp 5.850.000
Yang paling awal menjadi patokan adalah harga tiket pesawat dan perjalanan menuju dan dari bandara, baik di Soekarno-Hatta, Cengkareng maupun di Low Cost Carrier Terminal, Kuala Lumpur. Tiket pesawat yang kami beli online di Air Asia, beserta add-on bagasi dan skybus adalah sekitar Rp 900 ribu per 2 orang, dengan kata lain sekitar Rp 450 ribu per orang. Airport tax bandara Soekarno-Hatta adalah Rp 150 ribu per orang. Sedangkan biaya perjalanan bolak-balik dari rumah menuju bandara Soekarno-Hatta bervariasi, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per trip. Untuk per orang rata-rata memakan biaya Rp 50 ribu. Jadi biaya total yang berhubungan dengan bandara adalah Rp 650 ribu per orang. Dengan jumlah peserta trip sembilan orang, maka biaya keseluruhan menjadi adalah Rp 5.850.000
Label:
Berkeluarga
Selasa, Maret 29, 2011
Family Trip to Kuala Lumpur (7th - Tour and Places)
Tiga hari berada di Kuala Lumpur harus mempunyai rencana mengunjungi tempat-tempat menarik. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, ada beberapa tempat yang layak dikunjungi ketika berada di Kuala Lumpur, di antaranya adalah Petronas Twin Towers, Genting Highland, Malaysia Tower, Petaling Street dan Central Market. Sayangnya kami tidak mengunjungi Malaysia Tower dan Petaling Street. Namun itu dengan alasan yang cukup kuat. Malaysia Tower biaya kunjungannya terlalu mahal, karena per orang harus membayar sekitar RM 40 untuk mengunjungi towernya saja. Sedangkan Petaling Street atau Chinatown di waktu malam tidak direkomendasikan oleh beberapa sumber yang saya dapatkan karena banyak copet beredar di tempat tersebut waktu malam hari. Padahal tempat ini bagusnya adalah ketika malam hari dimana menjadi pasar tumpah dengan jumlah manusia yang sangat banyak.
Label:
Berkeluarga
Rabu, Februari 23, 2011
Family Trip to Kuala Lumpur (6th - Food)
Liburan kali ini bukan merupakan wisata kuliner, sehingga makanan yang kami makan adalah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pangan, dengan tentunya ada sarapan, makan siang dan makan malam. Jangan diharapkan ada tempat makan yang menjadi incaran kami, karena kami makan semata-mata karena sudah waktunya jam makan.
Pertama kali kami menjajal makanan di kota Kuala Lumpur adalah di restoran sebelah Tune Hotel. Restoran tersebut dimiliki oleh warga Malaysia keturunan India dan makanannya ada unsur bumbu Indianya. Saat itu kami sudah cukup lapar karena baru makan siang sekitar pukul 3 sore. Makanannya biasa saja, malah beberapa anggota keluarga merasakan sedikit aneh karena tidak terbiasa dengan bumbu khas India. Namun teh tarik di tempat ini rupanya menjadi teh tarik yang terenak selama saya menjajal teh tarik di Kuala Lumpur.
Pertama kali kami menjajal makanan di kota Kuala Lumpur adalah di restoran sebelah Tune Hotel. Restoran tersebut dimiliki oleh warga Malaysia keturunan India dan makanannya ada unsur bumbu Indianya. Saat itu kami sudah cukup lapar karena baru makan siang sekitar pukul 3 sore. Makanannya biasa saja, malah beberapa anggota keluarga merasakan sedikit aneh karena tidak terbiasa dengan bumbu khas India. Namun teh tarik di tempat ini rupanya menjadi teh tarik yang terenak selama saya menjajal teh tarik di Kuala Lumpur.
Label:
Berkeluarga
Selasa, Februari 22, 2011
Family Trip to Kuala Lumpur (5th - City Transportation)
Informasi yang didapatkan dari internet, buku dan teman yang pernah ke Kuala Lumpur menyebutkan bahwa di Kuala Lumpur ada sistem MRT yang belum terintegrasi karena masing-masing jalur dimiliki oleh perusahaan yang berbeda, lalu ada juga bus dalam kota yang bentuknya mirip seperti busway (agak nyaman) walaupun ada juga yang seperti bus PPD, dan taksi yang kurang baik layanannya karena kemungkinan besar supir taksi di Kuala Lumpur tidak mau menggunakan sistem argo dan lebih memilih sistem borongan seperti yang terjadi di Jakarta 10-20 tahun yang lalu.
Agak kontras memang informasi yang kita dapatkan tentang taksi dengan kondisi transportasi publik yang sudah beberapa langkah dari kota tercinta Jakarta ini. Jadi saya lebih berhati-hati dalam merencanakan trip ini, karena mau tak mau kita pasti akan menggunakan jasa taksi bagaimanapun juga.
Agak kontras memang informasi yang kita dapatkan tentang taksi dengan kondisi transportasi publik yang sudah beberapa langkah dari kota tercinta Jakarta ini. Jadi saya lebih berhati-hati dalam merencanakan trip ini, karena mau tak mau kita pasti akan menggunakan jasa taksi bagaimanapun juga.
Label:
Berkeluarga
Family Trip to Kuala Lumpur (4th - Hotel)
Untuk trip ini, kami sengaja memesan hotel jauh-jauh hari untuk lebih mendapatkan harga hotel yang cukup murah. Pada awalnya kami beranggapan bahwa Rp 300 ribu per malam adalah wajar di kota metropolitan seperti Kuala Lumpur, karena di Jakarta saja akan sulit mendapatkan hotel yang cukup nyaman dengan harga seperti itu.
Lalu, mulailah kami mencari hotel untuk menginap di Kuala Lumpur. Kami mencari dari mulai website, buku hingga rekomendasi dari teman. Akhirnya pilihan jatuh kepada Tune Hotel Downtown Kuala Lumpur. Kenapa kami ambil disana?
Lalu, mulailah kami mencari hotel untuk menginap di Kuala Lumpur. Kami mencari dari mulai website, buku hingga rekomendasi dari teman. Akhirnya pilihan jatuh kepada Tune Hotel Downtown Kuala Lumpur. Kenapa kami ambil disana?
Label:
Berkeluarga
Senin, Februari 14, 2011
Family Trip to Kuala Lumpur (3rd - Airport)
Tanggal 9 Februari 2011
Hari-H keberangkatan ke Kuala Lumpur. Hari ini jelas cuti karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 08.30. Dari jam 5 pagi sudah berangkat dari rumah diantar oleh mertua dan istri ke Blok-M karena mau naik DAMRI ke bandara.
Sampai di Blok-M pukul 5 lewat 20 menit, dan hanya menunggu sebentar langsung saja bus DAMRI-nya berangkat menuju bandara. Pukul 1/2 tujuh kurang sedikit sudah sampai di terminal 2D bandara Soekarno-Hatta. Adik saya sudah sampai duluan namun menunggu saya yang memang sudah berada di jalan saat dia sudah hampir sampai bandara. Keluarga yang lain belum sampai karena terjebak macet di tol Cibubur karena baru berangkat pukul 1/2 6 pagi dari rumah.
Hari-H keberangkatan ke Kuala Lumpur. Hari ini jelas cuti karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 08.30. Dari jam 5 pagi sudah berangkat dari rumah diantar oleh mertua dan istri ke Blok-M karena mau naik DAMRI ke bandara.
Sampai di Blok-M pukul 5 lewat 20 menit, dan hanya menunggu sebentar langsung saja bus DAMRI-nya berangkat menuju bandara. Pukul 1/2 tujuh kurang sedikit sudah sampai di terminal 2D bandara Soekarno-Hatta. Adik saya sudah sampai duluan namun menunggu saya yang memang sudah berada di jalan saat dia sudah hampir sampai bandara. Keluarga yang lain belum sampai karena terjebak macet di tol Cibubur karena baru berangkat pukul 1/2 6 pagi dari rumah.
Label:
Berkeluarga
Family Trip to Kuala Lumpur (2nd - Preparation)
Persiapan yang baik adalah awal dari suksesnya perjalanan. Kami punya waktu kira-kira enam bulan untuk mempersiapkan perjalanan ini. Dan inilah yang kami persiapkan untuk perjalanan kali ini.
Pertama yang dipersiapkan adalah paspor. Saya dan istri sudah habis masa berlakunya ketika Februari 2011. Saya berhasil mendapatkan paspor sejak Desember 2010 dengan susah payah dan pernah saya ceritakan di posting saya sebelumnya. Namun istri saya tidak berhasil mendapatkan paspor sampai tanggal 9 Februari 2011 sehingga dia terpaksa tidak ikut trip ke Kuala Lumpur kali ini. Kami sudah berkomitmen, bahwa jika memang tidak berhasil memperpanjang paspor, maka konsekuensinya adalah ditinggal, dan itu menjadi kenyataan. Keluarga yang lain tidak perlu kesulitan membuat paspor karena rata-rata di awal 2010 mereka semua sudah memperpanjang dan membuat paspornya.
Pertama yang dipersiapkan adalah paspor. Saya dan istri sudah habis masa berlakunya ketika Februari 2011. Saya berhasil mendapatkan paspor sejak Desember 2010 dengan susah payah dan pernah saya ceritakan di posting saya sebelumnya. Namun istri saya tidak berhasil mendapatkan paspor sampai tanggal 9 Februari 2011 sehingga dia terpaksa tidak ikut trip ke Kuala Lumpur kali ini. Kami sudah berkomitmen, bahwa jika memang tidak berhasil memperpanjang paspor, maka konsekuensinya adalah ditinggal, dan itu menjadi kenyataan. Keluarga yang lain tidak perlu kesulitan membuat paspor karena rata-rata di awal 2010 mereka semua sudah memperpanjang dan membuat paspornya.
Label:
Berkeluarga
Family Trip to Kuala Lumpur (1st - Booking Tickets & Hotel)
Tidak seperti family trip ke Singapore tahun lalu yang mendapatkan nol rupiah, kali ini kami hanya mendapatkan harga tiket murah Jakarta - Kuala Lumpur. Kali ini membeli tiket menggunakan account adik saya, dan ibu saya yang membayar keseluruhan tiket karena kebetulan baru dapat uang saat itu.
Total tiket yang kami dapatkan bolak-balik dalah Rp 470 ribu per orang. Harga tersebut termasuk airport tax untuk di kuala lumpur (bandara LCCT, bukan KLIA), bagasi 15 kg dan skybus (akan dijelaskan nanti).
Untuk trip kali ini, kami membooking hotel jauh-jauh hari dengan tarif rata-rata Rp 650 ribu per kamar untuk tiga hari menginap dengan kapasitas 2 orang. Harga tersebut sudah termasuk pemakaian AC secara kumulatif 24 jam. Harga belum termasuk makan pagi, karena kami tidak mau membayar lebih untuk makanan yang bisa kami cari sendiri di luar hotel. Dengan rencana sepuluh orang yang terdiri dari tujuh dewasa dan tiga anak, maka kami memesan 4 kamar. Hotel yang kami pilih adalah Tune Hotel Downtown Kuala Lumpur.
Setelah tiket dan hotel telah dibooking dan dibayar, maka tinggal menunggu waktu liburan dan mempersiapkan segala sesuatunya termasuk paspor saya yang memasuki masa expired saat 9 - 12 Februari 2011.
Total tiket yang kami dapatkan bolak-balik dalah Rp 470 ribu per orang. Harga tersebut termasuk airport tax untuk di kuala lumpur (bandara LCCT, bukan KLIA), bagasi 15 kg dan skybus (akan dijelaskan nanti).
Untuk trip kali ini, kami membooking hotel jauh-jauh hari dengan tarif rata-rata Rp 650 ribu per kamar untuk tiga hari menginap dengan kapasitas 2 orang. Harga tersebut sudah termasuk pemakaian AC secara kumulatif 24 jam. Harga belum termasuk makan pagi, karena kami tidak mau membayar lebih untuk makanan yang bisa kami cari sendiri di luar hotel. Dengan rencana sepuluh orang yang terdiri dari tujuh dewasa dan tiga anak, maka kami memesan 4 kamar. Hotel yang kami pilih adalah Tune Hotel Downtown Kuala Lumpur.
Setelah tiket dan hotel telah dibooking dan dibayar, maka tinggal menunggu waktu liburan dan mempersiapkan segala sesuatunya termasuk paspor saya yang memasuki masa expired saat 9 - 12 Februari 2011.
Label:
Berkeluarga
Selasa, Desember 28, 2010
Mengurus Paspor Sendiri (Kedatangan Hari Ketiga)
Hari ini tiba waktunya bagi saya untuk mengambil paspor hasil perjuangan selama dua hari menunggu di kantor imigrasi. Karena tinggal mengambil paspor, maka saya datang ke kantor imigrasi sekitar pukul 15.30. Kebetulan kantor tempat saya bekerja dekat dari kantor imigrasi tersebut dan saya langsung ijin pulang untuk mengambil paspor sehabis melaksanakan shalat ashar.
Pukul 15.45 saya sampai di kantor imigrasi dan langsung menuju loket pengambilan paspor yang terletak di ujung ruangan. Tanda terima yang saya dapatkan ketika hari kedua langsung saya cobloskan di paku depan loket dan menunggu di tempat duduk yang kosong. Tiga menit kemudian nama saya dipanggil. Saya disuruh menandatangani log book penerimaan paspor, kemudian tanda tangan di formulir permohonan paspor yang saya isi di hari pertama dan kemudian menerima paspor baru dan paspor lama sekaligus.
Pukul 15.45 saya sampai di kantor imigrasi dan langsung menuju loket pengambilan paspor yang terletak di ujung ruangan. Tanda terima yang saya dapatkan ketika hari kedua langsung saya cobloskan di paku depan loket dan menunggu di tempat duduk yang kosong. Tiga menit kemudian nama saya dipanggil. Saya disuruh menandatangani log book penerimaan paspor, kemudian tanda tangan di formulir permohonan paspor yang saya isi di hari pertama dan kemudian menerima paspor baru dan paspor lama sekaligus.
Label:
Berkeluarga
Senin, Desember 27, 2010
Mengurus Tumpang Tindih Makam
Sehabis menonton kekalahan tim sepakbola Indonesia di final piala AFF hari minggu lalu, saya dikejutkan oleh meninggalnya nenek tercinta dari kakak ipar saya. Langsung saja malam itu saya dan istri menuju rumah duka. Rupanya nenek saya meninggal ketika sedang berlangsung pertandingan sepak bola yang saya saksikan tersebut.
Ketika sampai rumah duka, saya langsung ditugaskan oleh ibu saya untuk mengurus makam nenek saya untuk esok harinya. Kebetulan makam nenek saya akan tumpang tindih dengan makam kakek saya yang meninggal lebih dari 20 tahun yang lalu. Menurut para pengurus RW yang saya butuhkan hanyalah sertifikat makam kakek saya untuk kepentingan tumpang tindih makam tersebut. Setelah meminta sertifikat tersebut kepada tante saya, saya langsung beristirahat karena esok harus datang ke makam pagi-pagi sekali.
Ketika sampai rumah duka, saya langsung ditugaskan oleh ibu saya untuk mengurus makam nenek saya untuk esok harinya. Kebetulan makam nenek saya akan tumpang tindih dengan makam kakek saya yang meninggal lebih dari 20 tahun yang lalu. Menurut para pengurus RW yang saya butuhkan hanyalah sertifikat makam kakek saya untuk kepentingan tumpang tindih makam tersebut. Setelah meminta sertifikat tersebut kepada tante saya, saya langsung beristirahat karena esok harus datang ke makam pagi-pagi sekali.
Label:
Berkeluarga
Jumat, Desember 17, 2010
Mengurus Paspor Sendiri (Kedatangan Hari Kedua)
Hari ini saya kembali cuti satu hari untuk mengurus paspor di tempat yang sama seperti sebelumnya. Ini adalah kali kedua saya kembali ke kantor imigrasi atau hari keempat dari keseluruhan proses saya memperoleh paspor. Kebetulan hari ini teman kantor saya juga memulai petualangan memperpanjang paspor bagi dia dan keluarganya setelah sebelumnya beliau menanyakan trik-trik agar di hari pertama tidak terlalu lama menunggu.
Jam 7 kurang saya sudah sampai di kantor imigrasi. Hari ini di jam yang sama dengan 3 hari yang lalu, kondisi imigrasi lebih penuh sesak dengan orang. Namun kali ini saya tidak membuang-buang waktu dan langsung menumpuk tanda terima yang sebelumnya saya dapatkan ke loket pengambilan berkas. Teman kantor saya bahkan sudah datang sejak jam 6 pagi dan dia dengan bangga mengatakan bahwa tumpukannya berada di urutan 10 pertama.
Jam 7 kurang saya sudah sampai di kantor imigrasi. Hari ini di jam yang sama dengan 3 hari yang lalu, kondisi imigrasi lebih penuh sesak dengan orang. Namun kali ini saya tidak membuang-buang waktu dan langsung menumpuk tanda terima yang sebelumnya saya dapatkan ke loket pengambilan berkas. Teman kantor saya bahkan sudah datang sejak jam 6 pagi dan dia dengan bangga mengatakan bahwa tumpukannya berada di urutan 10 pertama.
Label:
Berkeluarga
Selasa, Desember 14, 2010
Mengurus Paspor Sendiri (Kedatangan Hari Pertama)
Pasporku telah habis masa berlakunya sejak November 2010 lalu. Namun baru hari ini (14 Desember 2010) saya mengurus perpanjangannya. Kali ini untuk perpanjang sengaja tidak menggunakan biro saja karena ingin merasakan sendiri pengalaman memperpanjang paspor yang kabarnya cukup merepotkan bagi beberapa orang.
Persiapan yang dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai persyaratan perpanjangan paspor dan alur yang akan dilalui selama proses perpanjangan. Informasi didapat dari secarik kertas ukuran A4 yang diberikan oleh teman kantor yang kubikelnya dekat dengan saya mengenai persyaratan yang perlu dilengkapi. Informasi selanjutnya adalah dari website www.imigrasi.go.id. Lalu yang paling berguna adalah informasi pengalaman seseorang yang memperpanjang sendiri paspornya di sini.
Persiapan yang dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai persyaratan perpanjangan paspor dan alur yang akan dilalui selama proses perpanjangan. Informasi didapat dari secarik kertas ukuran A4 yang diberikan oleh teman kantor yang kubikelnya dekat dengan saya mengenai persyaratan yang perlu dilengkapi. Informasi selanjutnya adalah dari website www.imigrasi.go.id. Lalu yang paling berguna adalah informasi pengalaman seseorang yang memperpanjang sendiri paspornya di sini.
Label:
Berkeluarga
Kesan Pertama Nexian Journey NX-A890
Ketika membaca harian kompas hari Jumat tanggal 10 Desember 2010 di epaper.kompas.com, saya dikejutkan dengan iklan satu halaman penuh dan berwarna dari Nexian yang isinya tiga macam handphone Nexian seri She, Batman dan Journey harganya cuma Rp 88 ribu. Harga ini memang indikasi cicilan 12 bulan, tapi yang saya aneh kenapa Journey yang harganya jauh di atas She dan Batman harganya menjadi sama di iklan tersebut.
Saya mengindikasikan bahwa di iklan tersebut kemungkinan harga mulai Rp 88 ribu seperti kebanyakan iklan, namun saya tidak menemukan kata-kata mulai di dalam iklan tersebut. Saya berniat menanyakan perihal iklan tersebut ke outlet-outlet yang menjual Nexian.
Saya mengindikasikan bahwa di iklan tersebut kemungkinan harga mulai Rp 88 ribu seperti kebanyakan iklan, namun saya tidak menemukan kata-kata mulai di dalam iklan tersebut. Saya berniat menanyakan perihal iklan tersebut ke outlet-outlet yang menjual Nexian.
Label:
Berkeluarga
Kamis, Agustus 19, 2010
Bulan Puasa, Apa Yang Telah Kamu Perbuat?
Bulan Puasa sudah berlangsung hampir 10 hari. Selama itulah kita disibukkan oleh aktifitas yang tidak biasa sehari-hari, yaitu menahan lapar dan haus di siang hari. Aktifitas di dalam kantor pun berubah. Tadinya istirahat siang banyak dihabiskan dengan makan siang bareng teman kantor, kali ini banyak dihabiskan di mushala atau masjid sambil mendengarkan tausiyah dari ustadz yang diundang ke mushala atau masjid kantor. Satu hal yang tidak berubah hanyalah mendengarkan tausiyah dengan mata tertutup, alias sambil tidur siang....hehehe
Label:
Berkeluarga
Minggu, Mei 23, 2010
Review Sony Reader PRS-600
Setelah 10 hari menggunakan Sony Reader PRS-600 ada beberapa hal yang akan saya review. Mari kita mulai dengan layarnya.
Layar gadget ini memang tidak mengeluarkan cahaya. Buktinya ketika mencoba membaca dalam gelap, sama sekali tidak ada cahaya keluar dari reader ini. Artinya memang secara tampilan layar mirip sekali dengan buku, terutama buku yang kertasnya agak kecoklatan.
Daya tahan baterai memang tidak sampai dua minggu seperti yang disebutkan dalam spesifikasi dari website Sony. Aktual pemakaian aktif, dengan membolak-balik halaman dan zoom in zoom out adalah 4 hari kerja baterai sudah menunjukkan 'low bat'. Yang dimaksud dengan dua minggu mungkin jika file yang dibaca berformat 'epub' yang memang tidak memerlukan banyak refresh page. Dari spesifikasi website memang terlihat bahwa daya tahan baterai tergantung banyaknya membolak-balik halaman.
Sebagai gadget yang berlayar sentuh, tentu perlu juga direview mengenai performa layar sentuhnya. Reader ini sangat sensitif terhadap stylus bawaan, karena satu kali geser atau satu kali sentuhan, maka sudah terasa efeknya di layar. Jika memakai jari, harus agak sedikit ditekan, terutama untuk menggeser halaman.
Untuk masalah charging,ini adalah salah satu yang saya takutkan. Sampai hari ini saya baru sukses charging baterai reader ini di satu netbook kepunyaan istri saya. Saya pernah coba di komputer yang memiliki OS Windows XP yang lain, namun reader tidak dikenal dan tidak dalam posisi charged saat dikonek lewat USB. Mungkin saya akan coba di tempat lain lagi, tapi kebetulan komputer di rumah yang ada Windowsnya ya cuma dua itu. tidak ada masalah sama sekali apakah anda menggunakan windows maupun linux. Selama komputer mengenali reader sebagai salah satu mass storage, maka reader pun dalam posisi charging. Masa charged ketika low batt sekitar 3 jam-an.
Memory card yang support dengan reader ini adalah SD Card dan Memory Stick Duo. Saya sudah mencoba SD Card dari yang 128 MB (milik kamera pocket jenis lama) hingga yang 8 GB (baru beli beberapa hari yang lalu), dan semua sukses. Saran saya jangan menggunakan Micro SD Card dengan adapter untuk memory card reader ini, karena kemungkinan akan terbaca error oleh reader. Jadi tetap pake SD Card. 8 GB bisa buat simpan ribuan buku digital yang berbentuk pdf atau mungkin puluhan ribu yang bertipe epub atau txt.
Secara keseluruhan performa dari Reader yang baru 10 hari saya pakai cukup memuaskan. Memang belum ada wifi-nya bisa menjadi perbaikan pengembangan reader ini. Tapi yang bikin saya agak kesal, hari ini ketika lihat lagi reader ini di websitenya, harganya sudah berubah ke $199.....lumayan tuh beda $100....hehehe
O iya, gimana dengan buku digitalnya? Secara resmi buku digital belum ada satu tempat pun di Indonesia yang menjualnya, paling tidak yang saya ketahui. Sehingga untuk download buku-buku saat ini saya menggunakan pdf-pdf yang telah lama saya miliki, plus buku-buku klasik lama yang sudah gratis (project gutenberg adalah salah satu contohnya), dan untuk buku-buku terkini, dapat didownload dari forum-forum yang menyediakan link buku-buku laris, apapun keinginan anda. Jadi jangan takut readernya tidak terpakai, karena begitu banyak buku yang bisa di download di internet. Dan tentunya gratis......
Mudah-mudahan review ini berguna. Mau baca buku digital lagi ah di readerku malam ini....
Layar gadget ini memang tidak mengeluarkan cahaya. Buktinya ketika mencoba membaca dalam gelap, sama sekali tidak ada cahaya keluar dari reader ini. Artinya memang secara tampilan layar mirip sekali dengan buku, terutama buku yang kertasnya agak kecoklatan.
Daya tahan baterai memang tidak sampai dua minggu seperti yang disebutkan dalam spesifikasi dari website Sony. Aktual pemakaian aktif, dengan membolak-balik halaman dan zoom in zoom out adalah 4 hari kerja baterai sudah menunjukkan 'low bat'. Yang dimaksud dengan dua minggu mungkin jika file yang dibaca berformat 'epub' yang memang tidak memerlukan banyak refresh page. Dari spesifikasi website memang terlihat bahwa daya tahan baterai tergantung banyaknya membolak-balik halaman.
Sebagai gadget yang berlayar sentuh, tentu perlu juga direview mengenai performa layar sentuhnya. Reader ini sangat sensitif terhadap stylus bawaan, karena satu kali geser atau satu kali sentuhan, maka sudah terasa efeknya di layar. Jika memakai jari, harus agak sedikit ditekan, terutama untuk menggeser halaman.
Untuk masalah charging,
Memory card yang support dengan reader ini adalah SD Card dan Memory Stick Duo. Saya sudah mencoba SD Card dari yang 128 MB (milik kamera pocket jenis lama) hingga yang 8 GB (baru beli beberapa hari yang lalu), dan semua sukses. Saran saya jangan menggunakan Micro SD Card dengan adapter untuk memory card reader ini, karena kemungkinan akan terbaca error oleh reader. Jadi tetap pake SD Card. 8 GB bisa buat simpan ribuan buku digital yang berbentuk pdf atau mungkin puluhan ribu yang bertipe epub atau txt.
Secara keseluruhan performa dari Reader yang baru 10 hari saya pakai cukup memuaskan. Memang belum ada wifi-nya bisa menjadi perbaikan pengembangan reader ini. Tapi yang bikin saya agak kesal, hari ini ketika lihat lagi reader ini di websitenya, harganya sudah berubah ke $199.....lumayan tuh beda $100....hehehe
O iya, gimana dengan buku digitalnya? Secara resmi buku digital belum ada satu tempat pun di Indonesia yang menjualnya, paling tidak yang saya ketahui. Sehingga untuk download buku-buku saat ini saya menggunakan pdf-pdf yang telah lama saya miliki, plus buku-buku klasik lama yang sudah gratis (project gutenberg adalah salah satu contohnya), dan untuk buku-buku terkini, dapat didownload dari forum-forum yang menyediakan link buku-buku laris, apapun keinginan anda. Jadi jangan takut readernya tidak terpakai, karena begitu banyak buku yang bisa di download di internet. Dan tentunya gratis......
Mudah-mudahan review ini berguna. Mau baca buku digital lagi ah di readerku malam ini....
Label:
Berkeluarga
Kamis, Mei 13, 2010
Kesan Pertama Sony Reader PRS-600
Seminggu yang lalu teman saya meng-sms saya apakah saya masih tertarik dengan e-book reader karena temannya teman saya sedang berada di Amrik saat itu. Langsung saja saya bilang masih tertarik dan segera memintanya untuk memesan Sony Reader PRS-300 yang price list minggu kemarin berdasarkan internet adalah $149.
Sayangnya barang yang saya inginkan tidak tersedia di beberapa tempat yang dikunjungi temannya teman saya. Dia bilang adanya PRS-600 yang harga price listnya $299. Saya kemudian menyetujui jika memang adanya yang $299 juga tidak apa-apa.
Hari ini, Kamis 13 Mei 2010, Sony Reader PRS-600 sudah saya terima dengan baik dari teman saya. Melihat berat dari spesifikasinya yang sekitar 300 gram, saya merasakan Sony Reader ini lebih berat daripada gadget lain seperti Blackberry atau PDA. Ini karena layar reader ini berukuran 6 inch, jauh dibandingkan layar PDA atau smartphone yang cuma 3 inch.
Reader ini juga terlihat sangat tipis, sehingga mirip memegang buku tipis dengan ukuran seperti buku novel yang beredar di toko buku. Warna reader yang saya terima adalah warna hitam. Jika dilihat di website www.sony.com reader semacam ini punya dua warna lagi yaitu merah dan silver.
Yang menarik reader ini memiliki fitur touch screen. Ada stylusnya pula. Sehingga ketika menggunakannya betul-betul mirip seperti menggunakan PDA, namun reader ini tidak memiliki koneksi internet baik Wifi maupun 3G. Kayanya kalau berminat ada koneksi internetnya harus cari yang lebih mahal lagi kali ya...
Yang disayangkan dari reader ini menurut buku manualnya adalah hanya kompatibel dengan OS Windows dan Mac. Linux belum disupport. Maksud support disini adalah software e-book library yang digunakan untuk transfer data dari komputer ke reader. Tanpa software ini reader hanya berguna untuk dicharge bila dicolok lewat koneksi USB ke komputer. Software tersebut tampilannya mirip seperti i-tunes dimana kita harus melakukan sinkronisasi ketika memasukkan sebuah data (buku) ke dalam reader tersebut.
Saya memilih minta dibelikan reader ini karena reader ini dapat membaca format pdf. Jadi setiap file dalam bentuk pdf dapat langsung dibaca oleh reader ini seperti membaca lewat komputer.
Keunggulan reader ini adalah layarnya yang pasif, sehingga tidak melelahkan mata. Saya memang belum membaca lama di reader ini karena baru 2 jam yang lalu saya terima.
Ditunggu review berikutnya mengenai Sony Reader PRS-600.....
Sayangnya barang yang saya inginkan tidak tersedia di beberapa tempat yang dikunjungi temannya teman saya. Dia bilang adanya PRS-600 yang harga price listnya $299. Saya kemudian menyetujui jika memang adanya yang $299 juga tidak apa-apa.
Hari ini, Kamis 13 Mei 2010, Sony Reader PRS-600 sudah saya terima dengan baik dari teman saya. Melihat berat dari spesifikasinya yang sekitar 300 gram, saya merasakan Sony Reader ini lebih berat daripada gadget lain seperti Blackberry atau PDA. Ini karena layar reader ini berukuran 6 inch, jauh dibandingkan layar PDA atau smartphone yang cuma 3 inch.
Reader ini juga terlihat sangat tipis, sehingga mirip memegang buku tipis dengan ukuran seperti buku novel yang beredar di toko buku. Warna reader yang saya terima adalah warna hitam. Jika dilihat di website www.sony.com reader semacam ini punya dua warna lagi yaitu merah dan silver.
Yang menarik reader ini memiliki fitur touch screen. Ada stylusnya pula. Sehingga ketika menggunakannya betul-betul mirip seperti menggunakan PDA, namun reader ini tidak memiliki koneksi internet baik Wifi maupun 3G. Kayanya kalau berminat ada koneksi internetnya harus cari yang lebih mahal lagi kali ya...
Yang disayangkan dari reader ini menurut buku manualnya adalah hanya kompatibel dengan OS Windows dan Mac. Linux belum disupport. Maksud support disini adalah software e-book library yang digunakan untuk transfer data dari komputer ke reader. Tanpa software ini reader hanya berguna untuk dicharge bila dicolok lewat koneksi USB ke komputer. Software tersebut tampilannya mirip seperti i-tunes dimana kita harus melakukan sinkronisasi ketika memasukkan sebuah data (buku) ke dalam reader tersebut.
Saya memilih minta dibelikan reader ini karena reader ini dapat membaca format pdf. Jadi setiap file dalam bentuk pdf dapat langsung dibaca oleh reader ini seperti membaca lewat komputer.
Keunggulan reader ini adalah layarnya yang pasif, sehingga tidak melelahkan mata. Saya memang belum membaca lama di reader ini karena baru 2 jam yang lalu saya terima.
Ditunggu review berikutnya mengenai Sony Reader PRS-600.....
Label:
Berkeluarga
Rabu, Mei 12, 2010
Perubahan Pola Pikir dan Perilaku Bertransportasi
Perubahan adalah salah satu hal yang pasti di dunia ini. Perubahan dapat terjadi mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks dan melibatkan hajat hidup orang banyak. Dalam hal ini saya akan membahas perubahan pola pikir dan perilaku saya dalam bertransportasi.
Waktu saya masih kecil dan bersekolah di Taman Kanak-kanak, saya lebih banyak menggunakan becak sebagai alat transportasi saya ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah saya adalah sekitar 10-15 menit menggunakan becak. Saat itu becak lebih mudah didapat dan memungkinkan untuk ditumpangi lebih dari satu orang. Saya masih diantar oleh pengasuh saya yang saya panggil Emak walaupun kadang-kadang orang tua yang menemani ke sekolah.
Saat itu saya betul-betul belum tahu moda transportasi apa yang saya bisa pilih dan belum tahu kenapa memilih moda transportasi tersebut. Saya hanya mengikuti apa yang dipilih oleh orang yang mengantar saya sekolah dan kebanyakan si Emak memilih menggunakan becak.
Beranjak ke Sekolah Dasar saya masih belum memiliki pilihan moda transportasi. Saat itu yang dipilihkan orang tua ke saya adalah naik jemputan. Jemputan ini berupa mobil Mitsubishi L300 yang menurut saya sangat besar saat itu. Setiap pagi mobil ini menjemput saya dari rumah dan ketika jam sekolah usai mobil ini sudah menunggu di parkiran dekat sekolah. Saya menggunakan moda transportasi ini secara penuh hingga kelas 5 SD. Setelah itu saya mulai menentukan pilihan yaitu naik angkutan umum. Namun saya hanya naik angkot jika pulangnya. Paginya tetap dijemput oleh Pak Supir yang bernama Om An.
Saya memilih pulang naik angkutan umum saat itu karena terpengaruh ajakan teman. Rasanya kurang keren saat itu kalau naik jemputan, apalagi sudah kelas 6 SD. Jadilah tetap berlangganan jemputan, namun sering juga pulang sendiri dengan angkutan. Pikiran saya saat itu, saya sudah gede, jadi harus bisa mandiri. Dan untuk transportasi mandiri artinya bisa pulang sendiri. Mulai dari sinilah saya memiliki pilihan untuk transportasi yang saya gunakan, walaupun secara keseluruhan masih ditentukan oleh orang tua.
Saya ingat waktu itu pernah sekali pulang bareng teman. Uangnya hanya cukup untuk naik angkutan umum satu kali. Padahal untuk sampe ke rumah minimal kami harus naik angkutan umum dua kali. Dia bilang ke saya bahwa dia tak punya uang. Sedangkan saya punya uang yang cukup bahkan untuk membayari dia naik angkutan. Karena dia ngajak jalan ke rumah, akhirnya saya temani dia jalan kaki sampai ke rumah. Untuk diketahui, jarak jalan kaki kita saat itu adalah 2,5 km. Entah itu orang tau apa gak saat ini. Nama orang tersebut adalah Rully Septianto.
Masuk SMP saya masih didaftarkan ikut jemputan oleh orang tua. Kebetulan tahun pertama masuk siang. Kalau berangkat dari rumah siang-siang naik angkutan umum kan panas, nanti sampe sekolah malah mandi keringat. Demikian pemikiran orang tua saya.
Namun jemputan tidak bertahan lama, karena di tahun kedua saya sudah mulai menggunakan angkutan umum kembali. Kenyataannya, saya tidak perlu mandi keringat ketika sampai ke sekolah karena jam masuk siang bukan merupakan jam sibuk saat itu, sehingga jalanan tidak macet ketika berangkat. Malah saya bertemu banyak teman di perjalanan menuju sekolah. Sebagai informasi, sekolah saya dari jalan raya yang dilewati angkutan umum berjarak 10 menit jalan kaki. Makanya tidak aneh jika saya bertemu banyak teman sepanjang perjalanan.
Jaman SD dan SMP hanya sesekali saya diantar pake mobil keluarga. Saat itu orang tua sudah memiliki mobil walaupun hanya mobil bekas. Bahkan seingat saya sampai saat ini orang tua saya hanya empat kali pernah punya mobil baru. Daihatsu Feroza, Hyundai Trajet, Chevrolet Spark dan yang terakhir Daihatsu Xenia. Saat itu mobil yang dipakai juga tidak pakai AC karena memang AC bukan kebutuhan utama mobil saat itu. Jadi saya diantar pake mobil hanya ketika ada acara penting seperti hari pertama sekolah, atau pengambilan rapor.
Saat itu pula, saya melihat bahwa jika sekolah diantar oleh kendaraan sendiri, maka orang tua yang bersangkutan adalah orang kaya. Beberapa teman saya sering diantar jemput oleh mobil orang tuanya. Malah ada juga yang punya supir pribadi sehingga pulang perginya terjamin. Itu adalah jaman SMP dimana saya senang sekali jika melihat orang naik mobil dan berpikir bahwa suatu saat saya juga akan naik mobil seperti dirinya.
Lanjut ke SMA kebetulan saya sekolah di komplek yang sama dengan komplek sekolah SD dan SMP saya. Jadi ya sekolahnya disitu-situ aja tempatnya. Ketika SMA saya sering berangkat bareng kakak saya naik angkutan umum ke sekolahan. Seperti biasa, diantar pakai mobil oleh orang tua hanya ketika ada acara tertentu di sekolah. Sayangnya jam sekolah saya saat SMA dari jam 7 pagi hingga jam 1/2 4 sore. Pulang sekolah langsung ke rumah. Jarang sekali main ke rumah teman seperti jaman SMP dahulu.
Di SMA makin banyak teman yang diantar jemput oleh mobil pribadi orang tuanya. Beberapa kali saya nebeng minimal sampai ke depan untuk mencegat angkutan umum. Lumayan mengurangi jalan beberapa menit. Beberapa kali saya tidak naik angkutan umum yang kedua ketiga pergi untuk lebih mempercepat waktu sampai di sekolah. Saat itu di Kalimalang kalau mendekati jam 7 pagi macet berat, sehingga saya dan kakak jalan lewat sawah-sawah dekat sekolahan dan muncul di bagian belakang sekolah melewati gereja. Perjalanan tersebut memakan waktu 15 menit setiap hari.
Tempat kuliah saya kebetulan jauh dari rumah. Tepatnya di daerah Depok. Untuk mengurangi rasa capek yang mungkin timbul, Papa saya mencarikan saya dan kakak tempat kos dekat kampus. Hari minggu malam atau senin pagi kita diantar ke tempat kos, dan hari jumat sore kita pulang ke rumah nebeng Papa yang kebetulan seorang dosen di kampus yang sama.
Saat itu saya juga sekali-kali naik angkutan umum pada hari-hari yang khusus. Untuk naik angkutan umum dibutuhkan 5 kali berganti angkutan. Mulai dari gapaksi yang lewat komplek. Mikrolet ke arah Kampung Melayu. Metromini ke stasiun kereta Tebet. Kereta Api Listrik ke stasiun UI. Dan yang terakhir Bus Kuning ke Kampus. Rata-rata dibutuhkan waktu 1 1/2 - 2 jam perjalanan dari rumah ke kampus maupun sebaliknya. Waktu tunggu terlama adalah kereta api yang tidak jelas jadwalnya.
Saat itu naik angkutan umum adalah pilihan terakhir. Saya lebih senang naik mobil bareng papa atau kakak saya karena bisa tidur di mobil dengan hembusan AC. Ya, saat itu mobil kami sudah punya AC dan merupakan barang yang penting karena sudah sering macet dan panas.
Jika menggunakan mobil maka jarak tempuh kami rata-rata hanya 45 menit hingga 1 jam. Lebih cepat dan lebih nyaman membuat saya lebih senang menggunakan mobil, apalagi saat itu saya disupiri karena belum bisa menyetir sendiri. Jelas moda transportasi ini yang saya pilih daripada saya harus berpanas-panas naik angkutan umum dengan desak-desakan, apalagi di kereta yang bisa hampir seperti sauna ketika jam sibuk.
Saat itu saya berpikir, rumah ke kampus tidak masalah jauh, yang penting ada mobil yang bisa mengantar saya ke mana-mana. Bahkan orang tua saya pun berpikir demikian. Sehingga di awal abad 21 ini mereka membeli tanah dan rumah di daerah pinggiran Jakarta yang tentunya jauh dari hiruk-pikuk kota. Daerah ini sampai saat ini masih tentram dan nyaman, namun memang harus dibayar dengan jarak yang jauh dari tengah kota. Toh saat itu jarak yang jauh bisa ditempuh hanya dengan beberapa menit berkendara.
Ketika kuliah mulai mendekati semester akhir, saya yang tadinya tidak bisa membawa mobil karena saat belajar mobil waktu SMP dulu pernah nabrak mobil Pak Minto, tetangga depan rumah, dan trauma karena dimarahi habis-habisan oleh Papa, mulai belajar naik mobil lagi dan alhamdulillah tidak terlalu lama akhirnya berani membawa mobil sendiri. Abis lulus kuliah dan pas pertama kali dapat kerja di daerah Bendungan Hilir pun saya selalu membawa mobil ke kantor. Dengan take home pay yang tidak besar, saya berani terus-terusan membawa mobil ke kantor. Toh saat itu menurut saya membawa mobil berarti efektif dan efisien. Efektif karena waktu perjalanan ke kantor bisa cuma 1/2 jam jika masih di bawah jam 6 pagi. Efisien karena harga bensin dan tol saat itu masih cukup murah. Bahkan ketika pulang nebengin teman kantor, tolnya suka dibayarin oleh mereka. Artinya saya menganggap dengan kemacetan yang sudah ada saat itu, membawa mobil adalah pilihan yang paling baik. Dan itu berlangsung terus hingga saya diterima bekerja di tempat yang lain.
Di tahun-tahun itu kami sekeluarga disibukkan dengan aktifitas masing-masing. Sehingga orang tua menyediakan satu mobil untuk tiap orang rumah. Jadilah kami pernah memiliki lima mobil dalam satu rumah suatu kali. Masing-masing mobil punya kepemilikan sendiri-sendiri. Saat itu rasanya saya berpikir bahwa inilah kesuksesan yang sesungguhnya dari keluarga kami. Saya pun makin terbiasa bawa mobil. Menikmati AC di kemacetan kota. Toh bagi saya saat itu pake mobil sendiri lebih cepat dan lebih nyaman. Kita hanya perlu menyesuaikan jadwal pergi dan pulang supaya tidak terlalu terjebak kemacetan.
Masa-masa indah rupanya tidak terlalu lama. Macet di Jakarta makin menjadi-jadi. Begitu saya punya uang sendiri hasil kerja, saya membeli motor untuk memudahkan saya berkeliling kota. Saat itu paradigma orang jika naik motor artinya kita mengatasi kemacetan yang ada di kota ini. Memang pakai motor kena hujan dan panas, tapi untuk urusan cepat sampai inilah rajanya. Apalagi kalau pakai motor kita tidak perlu mencari waktu yang tepat untuk pergi karena kapanpun bisa dilakukan.
Lagi-lagi masa indah versi kedua berlangsung sangat cepat. Kemacetan pun semakin menggila. Jumlah motor di kota ini semakin meningkat, sehingga ketika kemacetan terjadi bahkan untuk orang jalan di tengahnya pun sangat sulit saking padatnya kendaraan bermotor. Naik motor pun tidak seindah sebelumnya walaupun untuk beberapa tempat keunggulannya masih terasa.
Akhirnya saya sampai di suatu titik dimana naik kendaraan pribadi capek karena sangat macet, dan naik kendaraan umum penuh sesak kendaraan, panas dan tidak aman. Tidak ada satupun moda transportasi yang cepat dan nyaman menurut saya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan situs nebeng.com dan berhasil kontak dengan salah satu membernya saat itu yang memiliki jalur yang sama dengan jalur ke kantor saya sehari-hari. Member tersebut bernama Andi Wardana. Dia biasa naik mobil ke kantor bareng istrinya dari daerah Kota Wisata ke Wisma BNI 46. Saya pun nebeng dengan Mas Andi ini ketika kantor masih di daerah Gatot Subroto dan Sudirman. Sebagai anggota nebeng saat itu saya tidak sendirian. Ada empat orang anggota reguler lainnya dan kami berpatungan memberikan kontribusi karena menebeng tersebut. Tarif nebeng tersebut jauh lebih murah dibandingkan moda transportasi lainnya, bahkan bisa bersaing dengan biaya menggunakan sepeda motor.
Nebeng mobil Mas Andi biasa saya lakukan hanya jam pergi kantor. Ketika jam pulang kantor saya biasa pulang sendiri dan menggunakan angkutan umum. Seperti biasa, kualitas angkutan umum sejak saya kecil hingga bekerja tidak juga beranjak baik, malah rasanya semakin memburuk karena seringnya berdesak-desakan. Tidak ada pilihan saat itu karena jika menggunakan mobil pribadi bensin mulai mahal. Tol pun juga mahal. Macet pula!! Jadi di saat itu menggunakan mobil mulai tidak ekonomis. Bahkan mobil yang ada di rumah pun satu per satu mulai dijual karena sering tidak dipakai dan mulai merongrong. Maklum rata-rata mobil bekas.
Saat itu mulai ada kampanye bike to work lewat internet dan media lainnya. Terakhir kali saya punya sepeda adalah jaman masih SD dahulu dengan trend sepeda federal. Tadinya berpikir bahwa naik sepeda ke kantor tidak menyenangkan, karena rumah di daerah pinggiran kota sedangkan kantor di daerah Sudirman dan Gatot Subroto. Naik motor aja membutuhkan waktu 1 1/2 jam. Kalau naik sepeda berapa lama? Pasti keringetan tuh ke kantor. Dan yang paling penting apakah saya kuat bersepeda demikian jauh? Karena dulu waktu kecil aja sepedaan hanya sampai komplek sebelah yang jaraknya tidak jauh.
Akhirnya saya punya keberanian untuk bersepeda ke tempat kerja setelah pindah kantor ke daerah TB Simatupang. Kebetulan di tempat kerja pun ada ruang untuk mandi setelah sepedaan dari rumah. Bahkan ada teman kerja yang juga pakai sepeda, yaitu Pak Nana dan Pak Samiyono, makin termotivasilah saya untuk bersepeda. Jadilah saya mulai bersepeda ke kantor diselingi dengan naik angkutan umum. Titik terang mengenai moda transportasi datang dari kebijakan kantor. Kantor tempat saya bekerja menyediakan jemputan ke kantor dari sekitar rumah karyawan. Tawaran ini sangat menggiurkan, walaupun kami masih harus membayar sejumlah uang yang dirasa tidak terlalu berat. Pembayaran sejumlah uang ini hanyalah sebuah komitmen agar ada kepastian jumlah orang yang ikut jemputan tersebut. Naik jemputan ini lebih enak lagi. Cepat, nyaman, kenal bahkan bersahabat dengan teman kantor di departemen lain dan yang pasti lebih irit dari moda transportasi apapun yang tersedia. Supir jemputan saya bernama Pak Yatno yang begitu gigih menjemput kami setiap hari sampai di masa libur lebaran pun dia tidak mudik karena integrasinya yang begitu tinggi dalam mengantar kami.
Saat ini saya sudah pindah rumah di Jakarta Barat. Disini kami memiliki dua mobil, dimana yang satu milik istri saya dan satu lagi milik mertua saya. Mobil mertua selalu dipakainya untuk beraktifitas setiap hari. Mobil istri saya lebih banyak nganggur di rumah, karena istri pun lebih memilih naik angkutan umum yang kurang manusiawi dibandingkan naik mobil yang walaupun nyaman, tapi mahal dan macetnya luar biasa.
Bahkan di hari libur saya lebih senang bepergian menggunakan sepeda daripada mobil, apalagi untuk jarak yang masih terbilang dekat, termasuk ke mal yang terdekat dengan rumah. Sayang istri saya tidak suka naik sepeda, sehingga jika saya bepergian dengan istri, maka kami selalu membawa mobil yang jarang dipakai tersebut.
Kembali ke perubahan yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Saya yang di waktu kecil sangat mengidam-idamkan memiliki mobil mewah karena merasa nyaman dan cepat sampai ke tujuan mulai mengubah pandangan saya mengenai penggunaan transportasi. Mengendarai mobil sendiri di Jakarta pada jam sibuk sangat tidak efektif dan efisien. Saya bahkan saat ini suka bingung kepada orang-orang yang masih suka mengendarai mobil sendiri pada jam-jam sibuk dengan kemacetan yang luar biasa. Apalagi jika ditambah dengan hujan yang turun, wah.....macetnya gak ketulungan!!!!
Saya lebih senang naik angkutan umum, walaupun sampai saat ini angkutan umum di Jakarta jauh dari manusiawi. Hidup selama 30 tahun di Jakarta, belum sekalipun saya merasakan ada angkutan umum yang manusiawi di kota ini. Satu-satunya angkutan umum yang paling manusiawi menurut saya adalah busway. Namun busway pun masih sangat jauh dari ideal.
Naik motor juga mulai saya tinggalkan saat ini. Memang saya belum menjual motor saya, karena masih dibutuhkan untuk antar-jemput jarak dekat dan masih dirasa efektif sampai saat ini. Tapi saya tidak pernah lagi menggunakan motor untuk jarak lebih dari 10 km, jika tidak terpaksa.
Anehnya, saya seperti kembali lagi ke masa kecil saya dimana saya suka bersepeda dan juga didaftarkan ikut jemputan. Kedua moda transportasi inilah yang sekarang lebih sering saya pilih. Sepeda dipilih karena memang asik bersepeda. Ada dua hal yang membuat saya tidak bersepeda ke kantor setiap hari. Pertama adalah hujan, dan yang kedua adalah jemputan yang disediakan kantor. Hujan memang menyulitkan pengendara sepeda, bahkan juga untuk pengendara motor. Jemputan kantor sangat menggiurkan. Karena di jemputan kita bisa ketawa-tawa bareng teman, atau tidur bersama....hal yang tidak bisa dilakukan jika menggunakan moda transportasi lain. Adakah yang bisa mengalahkan jemputan kantor? Saya belum menemuinya saat ini!!!
Saya sungguh senang kembali ke kebiasaan masa kecil dengan pola pikir dewasa. Saya rasa jika anda masih berpikir bahwa menggunakan mobil sendiri adalah pilihan terbaik, maka anda masih terkukung oleh pola pikir masa kanak-kanak anda dan itu akan makin menjerumuskan anda ke dalam kubang masalah transportasi di kota ini. Karena anda hanya bisa pasrah, tanpa bisa melakukan sesuatu untuk menyiasati keadaan apalagi memberikan solusi. Yang saya dapatkan sejak kecil, manusia adalah mahluk yang memiliki akal dan pikiran. Jika kita mau terus terjebak dengan keadaan dan tidak ingin berkreatifitas mencoba hal lain yang mungkin lebih baik, maka artinya kita sebagai manusia pada dasarnya tidak menggunakan akal dan pikirannya.
Setau saya keledai adalah mahluk paling buruk di muka bumi karena bisa masuk ke lubang yang sama dua kali. Kalau kita terjebak macet di tempat yang sama setiap hari selama bertahun-tahun, lalu kita disebut apa? Apakah manusia lebih buruk daripada keledai? Kalau saya bilang sih tidak, entah anda bilang apa!!
Waktu saya masih kecil dan bersekolah di Taman Kanak-kanak, saya lebih banyak menggunakan becak sebagai alat transportasi saya ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah saya adalah sekitar 10-15 menit menggunakan becak. Saat itu becak lebih mudah didapat dan memungkinkan untuk ditumpangi lebih dari satu orang. Saya masih diantar oleh pengasuh saya yang saya panggil Emak walaupun kadang-kadang orang tua yang menemani ke sekolah.
Saat itu saya betul-betul belum tahu moda transportasi apa yang saya bisa pilih dan belum tahu kenapa memilih moda transportasi tersebut. Saya hanya mengikuti apa yang dipilih oleh orang yang mengantar saya sekolah dan kebanyakan si Emak memilih menggunakan becak.
Beranjak ke Sekolah Dasar saya masih belum memiliki pilihan moda transportasi. Saat itu yang dipilihkan orang tua ke saya adalah naik jemputan. Jemputan ini berupa mobil Mitsubishi L300 yang menurut saya sangat besar saat itu. Setiap pagi mobil ini menjemput saya dari rumah dan ketika jam sekolah usai mobil ini sudah menunggu di parkiran dekat sekolah. Saya menggunakan moda transportasi ini secara penuh hingga kelas 5 SD. Setelah itu saya mulai menentukan pilihan yaitu naik angkutan umum. Namun saya hanya naik angkot jika pulangnya. Paginya tetap dijemput oleh Pak Supir yang bernama Om An.
Saya memilih pulang naik angkutan umum saat itu karena terpengaruh ajakan teman. Rasanya kurang keren saat itu kalau naik jemputan, apalagi sudah kelas 6 SD. Jadilah tetap berlangganan jemputan, namun sering juga pulang sendiri dengan angkutan. Pikiran saya saat itu, saya sudah gede, jadi harus bisa mandiri. Dan untuk transportasi mandiri artinya bisa pulang sendiri. Mulai dari sinilah saya memiliki pilihan untuk transportasi yang saya gunakan, walaupun secara keseluruhan masih ditentukan oleh orang tua.
Saya ingat waktu itu pernah sekali pulang bareng teman. Uangnya hanya cukup untuk naik angkutan umum satu kali. Padahal untuk sampe ke rumah minimal kami harus naik angkutan umum dua kali. Dia bilang ke saya bahwa dia tak punya uang. Sedangkan saya punya uang yang cukup bahkan untuk membayari dia naik angkutan. Karena dia ngajak jalan ke rumah, akhirnya saya temani dia jalan kaki sampai ke rumah. Untuk diketahui, jarak jalan kaki kita saat itu adalah 2,5 km. Entah itu orang tau apa gak saat ini. Nama orang tersebut adalah Rully Septianto.
Masuk SMP saya masih didaftarkan ikut jemputan oleh orang tua. Kebetulan tahun pertama masuk siang. Kalau berangkat dari rumah siang-siang naik angkutan umum kan panas, nanti sampe sekolah malah mandi keringat. Demikian pemikiran orang tua saya.
Namun jemputan tidak bertahan lama, karena di tahun kedua saya sudah mulai menggunakan angkutan umum kembali. Kenyataannya, saya tidak perlu mandi keringat ketika sampai ke sekolah karena jam masuk siang bukan merupakan jam sibuk saat itu, sehingga jalanan tidak macet ketika berangkat. Malah saya bertemu banyak teman di perjalanan menuju sekolah. Sebagai informasi, sekolah saya dari jalan raya yang dilewati angkutan umum berjarak 10 menit jalan kaki. Makanya tidak aneh jika saya bertemu banyak teman sepanjang perjalanan.
Jaman SD dan SMP hanya sesekali saya diantar pake mobil keluarga. Saat itu orang tua sudah memiliki mobil walaupun hanya mobil bekas. Bahkan seingat saya sampai saat ini orang tua saya hanya empat kali pernah punya mobil baru. Daihatsu Feroza, Hyundai Trajet, Chevrolet Spark dan yang terakhir Daihatsu Xenia. Saat itu mobil yang dipakai juga tidak pakai AC karena memang AC bukan kebutuhan utama mobil saat itu. Jadi saya diantar pake mobil hanya ketika ada acara penting seperti hari pertama sekolah, atau pengambilan rapor.
Saat itu pula, saya melihat bahwa jika sekolah diantar oleh kendaraan sendiri, maka orang tua yang bersangkutan adalah orang kaya. Beberapa teman saya sering diantar jemput oleh mobil orang tuanya. Malah ada juga yang punya supir pribadi sehingga pulang perginya terjamin. Itu adalah jaman SMP dimana saya senang sekali jika melihat orang naik mobil dan berpikir bahwa suatu saat saya juga akan naik mobil seperti dirinya.
Lanjut ke SMA kebetulan saya sekolah di komplek yang sama dengan komplek sekolah SD dan SMP saya. Jadi ya sekolahnya disitu-situ aja tempatnya. Ketika SMA saya sering berangkat bareng kakak saya naik angkutan umum ke sekolahan. Seperti biasa, diantar pakai mobil oleh orang tua hanya ketika ada acara tertentu di sekolah. Sayangnya jam sekolah saya saat SMA dari jam 7 pagi hingga jam 1/2 4 sore. Pulang sekolah langsung ke rumah. Jarang sekali main ke rumah teman seperti jaman SMP dahulu.
Di SMA makin banyak teman yang diantar jemput oleh mobil pribadi orang tuanya. Beberapa kali saya nebeng minimal sampai ke depan untuk mencegat angkutan umum. Lumayan mengurangi jalan beberapa menit. Beberapa kali saya tidak naik angkutan umum yang kedua ketiga pergi untuk lebih mempercepat waktu sampai di sekolah. Saat itu di Kalimalang kalau mendekati jam 7 pagi macet berat, sehingga saya dan kakak jalan lewat sawah-sawah dekat sekolahan dan muncul di bagian belakang sekolah melewati gereja. Perjalanan tersebut memakan waktu 15 menit setiap hari.
Tempat kuliah saya kebetulan jauh dari rumah. Tepatnya di daerah Depok. Untuk mengurangi rasa capek yang mungkin timbul, Papa saya mencarikan saya dan kakak tempat kos dekat kampus. Hari minggu malam atau senin pagi kita diantar ke tempat kos, dan hari jumat sore kita pulang ke rumah nebeng Papa yang kebetulan seorang dosen di kampus yang sama.
Saat itu saya juga sekali-kali naik angkutan umum pada hari-hari yang khusus. Untuk naik angkutan umum dibutuhkan 5 kali berganti angkutan. Mulai dari gapaksi yang lewat komplek. Mikrolet ke arah Kampung Melayu. Metromini ke stasiun kereta Tebet. Kereta Api Listrik ke stasiun UI. Dan yang terakhir Bus Kuning ke Kampus. Rata-rata dibutuhkan waktu 1 1/2 - 2 jam perjalanan dari rumah ke kampus maupun sebaliknya. Waktu tunggu terlama adalah kereta api yang tidak jelas jadwalnya.
Saat itu naik angkutan umum adalah pilihan terakhir. Saya lebih senang naik mobil bareng papa atau kakak saya karena bisa tidur di mobil dengan hembusan AC. Ya, saat itu mobil kami sudah punya AC dan merupakan barang yang penting karena sudah sering macet dan panas.
Jika menggunakan mobil maka jarak tempuh kami rata-rata hanya 45 menit hingga 1 jam. Lebih cepat dan lebih nyaman membuat saya lebih senang menggunakan mobil, apalagi saat itu saya disupiri karena belum bisa menyetir sendiri. Jelas moda transportasi ini yang saya pilih daripada saya harus berpanas-panas naik angkutan umum dengan desak-desakan, apalagi di kereta yang bisa hampir seperti sauna ketika jam sibuk.
Saat itu saya berpikir, rumah ke kampus tidak masalah jauh, yang penting ada mobil yang bisa mengantar saya ke mana-mana. Bahkan orang tua saya pun berpikir demikian. Sehingga di awal abad 21 ini mereka membeli tanah dan rumah di daerah pinggiran Jakarta yang tentunya jauh dari hiruk-pikuk kota. Daerah ini sampai saat ini masih tentram dan nyaman, namun memang harus dibayar dengan jarak yang jauh dari tengah kota. Toh saat itu jarak yang jauh bisa ditempuh hanya dengan beberapa menit berkendara.
Ketika kuliah mulai mendekati semester akhir, saya yang tadinya tidak bisa membawa mobil karena saat belajar mobil waktu SMP dulu pernah nabrak mobil Pak Minto, tetangga depan rumah, dan trauma karena dimarahi habis-habisan oleh Papa, mulai belajar naik mobil lagi dan alhamdulillah tidak terlalu lama akhirnya berani membawa mobil sendiri. Abis lulus kuliah dan pas pertama kali dapat kerja di daerah Bendungan Hilir pun saya selalu membawa mobil ke kantor. Dengan take home pay yang tidak besar, saya berani terus-terusan membawa mobil ke kantor. Toh saat itu menurut saya membawa mobil berarti efektif dan efisien. Efektif karena waktu perjalanan ke kantor bisa cuma 1/2 jam jika masih di bawah jam 6 pagi. Efisien karena harga bensin dan tol saat itu masih cukup murah. Bahkan ketika pulang nebengin teman kantor, tolnya suka dibayarin oleh mereka. Artinya saya menganggap dengan kemacetan yang sudah ada saat itu, membawa mobil adalah pilihan yang paling baik. Dan itu berlangsung terus hingga saya diterima bekerja di tempat yang lain.
Di tahun-tahun itu kami sekeluarga disibukkan dengan aktifitas masing-masing. Sehingga orang tua menyediakan satu mobil untuk tiap orang rumah. Jadilah kami pernah memiliki lima mobil dalam satu rumah suatu kali. Masing-masing mobil punya kepemilikan sendiri-sendiri. Saat itu rasanya saya berpikir bahwa inilah kesuksesan yang sesungguhnya dari keluarga kami. Saya pun makin terbiasa bawa mobil. Menikmati AC di kemacetan kota. Toh bagi saya saat itu pake mobil sendiri lebih cepat dan lebih nyaman. Kita hanya perlu menyesuaikan jadwal pergi dan pulang supaya tidak terlalu terjebak kemacetan.
Masa-masa indah rupanya tidak terlalu lama. Macet di Jakarta makin menjadi-jadi. Begitu saya punya uang sendiri hasil kerja, saya membeli motor untuk memudahkan saya berkeliling kota. Saat itu paradigma orang jika naik motor artinya kita mengatasi kemacetan yang ada di kota ini. Memang pakai motor kena hujan dan panas, tapi untuk urusan cepat sampai inilah rajanya. Apalagi kalau pakai motor kita tidak perlu mencari waktu yang tepat untuk pergi karena kapanpun bisa dilakukan.
Lagi-lagi masa indah versi kedua berlangsung sangat cepat. Kemacetan pun semakin menggila. Jumlah motor di kota ini semakin meningkat, sehingga ketika kemacetan terjadi bahkan untuk orang jalan di tengahnya pun sangat sulit saking padatnya kendaraan bermotor. Naik motor pun tidak seindah sebelumnya walaupun untuk beberapa tempat keunggulannya masih terasa.
Akhirnya saya sampai di suatu titik dimana naik kendaraan pribadi capek karena sangat macet, dan naik kendaraan umum penuh sesak kendaraan, panas dan tidak aman. Tidak ada satupun moda transportasi yang cepat dan nyaman menurut saya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan situs nebeng.com dan berhasil kontak dengan salah satu membernya saat itu yang memiliki jalur yang sama dengan jalur ke kantor saya sehari-hari. Member tersebut bernama Andi Wardana. Dia biasa naik mobil ke kantor bareng istrinya dari daerah Kota Wisata ke Wisma BNI 46. Saya pun nebeng dengan Mas Andi ini ketika kantor masih di daerah Gatot Subroto dan Sudirman. Sebagai anggota nebeng saat itu saya tidak sendirian. Ada empat orang anggota reguler lainnya dan kami berpatungan memberikan kontribusi karena menebeng tersebut. Tarif nebeng tersebut jauh lebih murah dibandingkan moda transportasi lainnya, bahkan bisa bersaing dengan biaya menggunakan sepeda motor.
Nebeng mobil Mas Andi biasa saya lakukan hanya jam pergi kantor. Ketika jam pulang kantor saya biasa pulang sendiri dan menggunakan angkutan umum. Seperti biasa, kualitas angkutan umum sejak saya kecil hingga bekerja tidak juga beranjak baik, malah rasanya semakin memburuk karena seringnya berdesak-desakan. Tidak ada pilihan saat itu karena jika menggunakan mobil pribadi bensin mulai mahal. Tol pun juga mahal. Macet pula!! Jadi di saat itu menggunakan mobil mulai tidak ekonomis. Bahkan mobil yang ada di rumah pun satu per satu mulai dijual karena sering tidak dipakai dan mulai merongrong. Maklum rata-rata mobil bekas.
Saat itu mulai ada kampanye bike to work lewat internet dan media lainnya. Terakhir kali saya punya sepeda adalah jaman masih SD dahulu dengan trend sepeda federal. Tadinya berpikir bahwa naik sepeda ke kantor tidak menyenangkan, karena rumah di daerah pinggiran kota sedangkan kantor di daerah Sudirman dan Gatot Subroto. Naik motor aja membutuhkan waktu 1 1/2 jam. Kalau naik sepeda berapa lama? Pasti keringetan tuh ke kantor. Dan yang paling penting apakah saya kuat bersepeda demikian jauh? Karena dulu waktu kecil aja sepedaan hanya sampai komplek sebelah yang jaraknya tidak jauh.
Akhirnya saya punya keberanian untuk bersepeda ke tempat kerja setelah pindah kantor ke daerah TB Simatupang. Kebetulan di tempat kerja pun ada ruang untuk mandi setelah sepedaan dari rumah. Bahkan ada teman kerja yang juga pakai sepeda, yaitu Pak Nana dan Pak Samiyono, makin termotivasilah saya untuk bersepeda. Jadilah saya mulai bersepeda ke kantor diselingi dengan naik angkutan umum. Titik terang mengenai moda transportasi datang dari kebijakan kantor. Kantor tempat saya bekerja menyediakan jemputan ke kantor dari sekitar rumah karyawan. Tawaran ini sangat menggiurkan, walaupun kami masih harus membayar sejumlah uang yang dirasa tidak terlalu berat. Pembayaran sejumlah uang ini hanyalah sebuah komitmen agar ada kepastian jumlah orang yang ikut jemputan tersebut. Naik jemputan ini lebih enak lagi. Cepat, nyaman, kenal bahkan bersahabat dengan teman kantor di departemen lain dan yang pasti lebih irit dari moda transportasi apapun yang tersedia. Supir jemputan saya bernama Pak Yatno yang begitu gigih menjemput kami setiap hari sampai di masa libur lebaran pun dia tidak mudik karena integrasinya yang begitu tinggi dalam mengantar kami.
Saat ini saya sudah pindah rumah di Jakarta Barat. Disini kami memiliki dua mobil, dimana yang satu milik istri saya dan satu lagi milik mertua saya. Mobil mertua selalu dipakainya untuk beraktifitas setiap hari. Mobil istri saya lebih banyak nganggur di rumah, karena istri pun lebih memilih naik angkutan umum yang kurang manusiawi dibandingkan naik mobil yang walaupun nyaman, tapi mahal dan macetnya luar biasa.
Bahkan di hari libur saya lebih senang bepergian menggunakan sepeda daripada mobil, apalagi untuk jarak yang masih terbilang dekat, termasuk ke mal yang terdekat dengan rumah. Sayang istri saya tidak suka naik sepeda, sehingga jika saya bepergian dengan istri, maka kami selalu membawa mobil yang jarang dipakai tersebut.
Kembali ke perubahan yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Saya yang di waktu kecil sangat mengidam-idamkan memiliki mobil mewah karena merasa nyaman dan cepat sampai ke tujuan mulai mengubah pandangan saya mengenai penggunaan transportasi. Mengendarai mobil sendiri di Jakarta pada jam sibuk sangat tidak efektif dan efisien. Saya bahkan saat ini suka bingung kepada orang-orang yang masih suka mengendarai mobil sendiri pada jam-jam sibuk dengan kemacetan yang luar biasa. Apalagi jika ditambah dengan hujan yang turun, wah.....macetnya gak ketulungan!!!!
Saya lebih senang naik angkutan umum, walaupun sampai saat ini angkutan umum di Jakarta jauh dari manusiawi. Hidup selama 30 tahun di Jakarta, belum sekalipun saya merasakan ada angkutan umum yang manusiawi di kota ini. Satu-satunya angkutan umum yang paling manusiawi menurut saya adalah busway. Namun busway pun masih sangat jauh dari ideal.
Naik motor juga mulai saya tinggalkan saat ini. Memang saya belum menjual motor saya, karena masih dibutuhkan untuk antar-jemput jarak dekat dan masih dirasa efektif sampai saat ini. Tapi saya tidak pernah lagi menggunakan motor untuk jarak lebih dari 10 km, jika tidak terpaksa.
Anehnya, saya seperti kembali lagi ke masa kecil saya dimana saya suka bersepeda dan juga didaftarkan ikut jemputan. Kedua moda transportasi inilah yang sekarang lebih sering saya pilih. Sepeda dipilih karena memang asik bersepeda. Ada dua hal yang membuat saya tidak bersepeda ke kantor setiap hari. Pertama adalah hujan, dan yang kedua adalah jemputan yang disediakan kantor. Hujan memang menyulitkan pengendara sepeda, bahkan juga untuk pengendara motor. Jemputan kantor sangat menggiurkan. Karena di jemputan kita bisa ketawa-tawa bareng teman, atau tidur bersama....hal yang tidak bisa dilakukan jika menggunakan moda transportasi lain. Adakah yang bisa mengalahkan jemputan kantor? Saya belum menemuinya saat ini!!!
Saya sungguh senang kembali ke kebiasaan masa kecil dengan pola pikir dewasa. Saya rasa jika anda masih berpikir bahwa menggunakan mobil sendiri adalah pilihan terbaik, maka anda masih terkukung oleh pola pikir masa kanak-kanak anda dan itu akan makin menjerumuskan anda ke dalam kubang masalah transportasi di kota ini. Karena anda hanya bisa pasrah, tanpa bisa melakukan sesuatu untuk menyiasati keadaan apalagi memberikan solusi. Yang saya dapatkan sejak kecil, manusia adalah mahluk yang memiliki akal dan pikiran. Jika kita mau terus terjebak dengan keadaan dan tidak ingin berkreatifitas mencoba hal lain yang mungkin lebih baik, maka artinya kita sebagai manusia pada dasarnya tidak menggunakan akal dan pikirannya.
Setau saya keledai adalah mahluk paling buruk di muka bumi karena bisa masuk ke lubang yang sama dua kali. Kalau kita terjebak macet di tempat yang sama setiap hari selama bertahun-tahun, lalu kita disebut apa? Apakah manusia lebih buruk daripada keledai? Kalau saya bilang sih tidak, entah anda bilang apa!!
Label:
Berkeluarga
Langganan:
Postingan (Atom)
