Beberapa minggu lalu, saya secara tidak sengaja mengganti channel saluran TV di sore hari (sekitar waktu Magrib), dan menemukan tayangan Saint Seiya di TV. Tepatnya di saluran SpaceToon. Saint Seiya adalah termasuk acara kartun favorit ketika saya masih SMP. Saat itu jadwal acara Saint Seiya kurang pas bagi saya yang masuk siang, karena waktunya di 17.30 (waktu itu yang menyiarkan adalah RCTI). Kenapa gak pas? sebabnya saya pulang dari sekolah aja udah 17.15, ditambah perjalanan berarti paling cepat baru bisa nonton adalah 17.45, dipotong azan magrib, artinya saya cuma bisa nonton sepenggal cerita dari satu episode tersebut, dan saat itu saya sangat tidak puas.
Namun saat ini saya benar-benar puas nonton Saint Seiya di TV. Pulang ke rumah rata-rata jam 17.30, Saint Seiya mulai di 17.40, paling tidak punya 10 menit waktu untuk ganti pakaian dan bersantai sedikit sebelum nonton. Iklannya pun gak sebanyak waktu jaman dulu, dan yang lebih mengasyikan, satu hari itu langsung dua episode sekaligus, yang episode keduanya dimulai di 18.20. Jadilah saya nonton Saint Seiya satu jam penuh. Tadinya cuma nonton sendiri, tapi akhirnya istri ikutan nonton juga gak mau kalah, soalnya masa kecilnya dia juga suka nonton Saint Seiya.
Cerita Saint Seiya, hingga saat ini (26 Januari 2009) sudah menuju Istana Sagitarius. Belum masuk adegan yang paling saya suka, dimana Hyoga harus berhadapan dengan Kakek Gurunya, Kamyu Aquarius. Kalo gak salah ada satu pelajaran fisika di adegan tersebut, dimana Hyoga bisa mencapai titik dingin nol derajat mutlak, atau kalau disamakan dengan derajat celcius, berarti minus 273 derajat celcius. Seru, sangat menarik, saya menunggu adegan tersebut
Selasa, Januari 27, 2009
Selasa, Januari 20, 2009
Pertamina : Gagal Improved atau Hasil Skenario?
Beberapa bulan belakangan ini, Pertamina selalu mengkampanyekan dirinya menuju World Class Company (WCC) lewat media massa dan elektronik. Bahkan di Kompas edisi 20 Januari 2009, halaman 9, ada kampanye pertamina yang berkomitmen untuk menjaga distribusi BBM.
Menurut Nugroho Suryo, PhD, staff pengajar Prasetiya Mulya Business School untuk menjadi WCC dibutuhkan improvement yang Cepat, Tepat dan Sukses sekaligus. Dan yang namanya improvement harus langsung dirasakan oleh Customer.
Kalo begitu, mari kita lihat Pertamina. Mereka klaim mereka telah berupaya untuk menjadi WCC. Tentunya improvement itu akan kelihatan dari performance mereka yang langsung dirasakan customer.
Dari sisi distribusi BBM, ini yang perlu jadi perhatian. Beberapa bulan belakangan ini, seiring dengan kampanye yang dilakukan Pertamina bahwa mereka sedang berubah menuju WCC, kinerja distribusi BBM dan Elpiji Pertamina tidak dirasakan makin baik oleh para customer. Kelangkaan BBM dan Elpiji terjadi paling tidak satu kali setiap bulan, bahkan Elpiji beberapa saat lalu sempat terjadi kelangkaan hingga seminggu lebih berturut-turut. Dan kelangkaan BBM pun terjadi ketika pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi.
Ketika terjadi kelangkaan Elpiji, penyebab utamanya adalah Shutdownnya Kilang Balongan, walaupun shutdown tersebut sudah direncanakan sebelumnya. Pertamina berulang kali di media massa menyatakan, bahwa mereka mempunyai safety stock BBM dan Elpiji hingga 20 hari kebutuhan, sehingga bila satu kilang shutdown, apalagi shutdown yang direncanakan, tentunya jika memang terjadi kelangkaan, maka kelangkaan akan terjadi 20 hari setelah kilang tersebut shutdown, bukan di saat hari pertama atau kedua kilang tersebut shutdown.
Penyebab lainnya kelangkaan adalah kondisi alam yang kurang bersahabat, sehingga tanker-tanker distribusi Pertamina tidak bisa merapat ke pelabuhan yang menyebabkan distribusi ke konsumen terhambat. Sekali lagi, dengan klaim mempunyai safety stock hingga 20 hari, maka kondisi alam yang kurang bersahabat, baru akan memiliki efek 20 hari kemudian, tidak langsung saat kejadian.
Baru-baru ini malah terjadi kebakaran depot di Plumpang, Jakarta. Kebakaran hanya menimpa tanki nomor 24. Kalau dianggap di situ ada 24 tanki, artinya masih ada 23 tanki lain yang masih mempunyai stock BBM. Katakanlah 2-3 tanki terkontaminasi akibat usaha pemadaman, maka ada 20 tanki lebih yang masih beroperasi dan memiliki stock. Kenyataannya, di beberapa tempat di Jabotabek tanggal 20 Januari 2009 kemarin, banyak SPBU yang tutup karena kehabisan stock BBM. Padahal di saat yang sama Pertamina tetap mengkampanyekan dirinya mampu menjaga distribusi BBM, seperti yang dapat dilihat di Kompas.
Dari fakta-fakta yang disebutkan di atas, terbukti bahwa klaim pertamina bahwa mereka menuju WCC masih jauh panggang dari api. Mereka mungkin menganggap mereka telah improved, tapi apakah memenuhi kriteria Cepat, Tepat dan Sukses sekaligus? Mudah-mudahan Pertamina tidak salah dalam mengambil langkah improvement karena yang dirasakan customer hingga saat ini, kinerja Pertamina dalam menjaga distribusi BBM dan Elpiji dirasa masih belum mengalami peningkatan yang signifikan atau belum layak dianggap sebagai WCC.
Sekarang kita coba melihat dari sisi lain....
Pertamina, walaupun sebagai sebuah perusahaan tidak sepenuhnya independen menjalankan usahanya. Banyak pihak berkepentingan terhadap Pertamina, baik pemerintah, maupun Partai Politik. Tahun 2007 lalu, Pertamina menjadi perusahaan BUMN penyumbang dividen terbesar, yaitu hampir mendekati Rp 20 Triliun. Dengan kontribusi yang sangat besar bagi negara, adalah hal yang wajar Pertamina paling sering disorot oleh banyak kepentingan.
Saat ini internal Pertamina sedang melakukan konsolidasi untuk mengubah dirinya menjadi WCC. Katakanlah itu berjalan dengan baik, sesuai dengan Tujuan dan Sasaran perusahaan. Tapi kenapa perubahan itu tidak dirasakan customer? Apakah ada kekuatan besar lain yang mempunyai skenario agar Pertamina tidak bisa menjadi WCC?
Andaikata memang ada skenario tersebut, trus tujuannya apa? Bisa saja, karena Pertamina tidak bisa menjadi WCC dalam hal menjaga distribusi BBM, apalagi BBM bersubsidi, mungkin pemerintah akan mendapatkan tekanan untuk membolehkan perusahaan lain menjadi distributor BBM bersubsidi yang konsumsi tiap harinya sangat besar, hingga mencapai jutaan liter, yang tentunya merupakan bisnis yang sangat menggiurkan bagi siapapun yang menjadi pelakunya.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa tekanan sebuah perusahaan menjadi WCC menjadi semakin berat, terutama dari pesaing. Karena setiap perusahaan akan berusaha membunuh saingannya sedemikian rupa, atau saingan tersebut dibuat tidak dapat berkembang sehingga dibiarkan mati dengan sendirinya.
Untuk menekan pesaing, sebuah perusahaan yang sudah menjadi WCC dapat menghalalkan berbagai macam cara. Contohnya Toyota di Indonesia, lewat Pemerintah Jepang, Toyota berhasil menekan pemerintah kita agar membuka keran kebijakan Global Procurement mereka, sehingga supply komponen tidak lagi dari perusahaan dalam negri, tapi disupply dari perusahaan lain yang mereka anggap paling baik menghasilkan komponen tersebut. Jangan juga dilupakan, usaha Exxon Mobil. Lewat Pemerintah Amerika, Exxon berhasil mendapatkan hak operasi di Blok Cepu. Kedua hal inilah yang dinamakan Political Capital, dan hal tersebut adalah dianggap legal dan etichal di dunia bisnis.
Sedangkan untuk kasus Pertamina, sepertinya jika memang ada skenario agar mereka tidak dapat menjadi WCC, maka hal itu akan menjadi sesuatu yang tidak legal dan tidak etis. Kenapa? Lihat saja, sistem distribusi yang sudah disusun oleh Pertamina, dirusak dari dalam. Mereka tahu waktu yang tepat untuk menutup distribusi, seperti ketika ada shutdown terencana di kilang atau kondisi cuaca yang buruk. Yang paling kelihatan tidak etis adalah kemungkinan terjadinya sabotase Depot Plumpang, karena hal itu merusak asset dan juga merenggut seorang korban dari pihak Pertamina.
Mudah-mudahan fakta-fakta mengenai distribusi BBM benar-benar dianalisa secara komprehensif oleh Pertamina maupun pemerintah, apakah memang kejadian tersebut merupakan bukti tidak Cepat, tidak Tepat dan tidak Suksesnya Pertamina dalam melakukan improvement, atau ada skenario yang tidak menghendaki Pertamina menjadi WCC. Akibatnya Pertamina mendapatkan rapor buruk dari berbagai kalangan maupun pemerintah dari sisi distribusi BBM, dan membuat pemerintah tidak mempunyai pilihan lain kecuali membuka keran distribusi BBM bagi perusahaan lain di Indonesia.
Mari sama-sama kita lihat fakta berikutnya!!!
Label:
Berusaha
Senin, Januari 19, 2009
Naik Apa yang Gak Bisa Turun?
Mungkin waktu masih anak-anak dulu, pernah mendengar teka-teki seperti ini, "Naik Apa yang Gak Bisa Turun?" pasti semua dah tau jawabannya, yaitu "Naik Haji". Namun rasanya teka-teki ini harus direvisi kembali jawabannya, karena rupanya kali ini bukan hanya Naik Haji yang gak bisa Turun, tapi Naik Tarif angkutan umum pun tidak bisa Turun Tarif.
Lihat saja faktanya, sejak tanggal 15 Januari 2009 lalu, BBM sudah pada level yang sama sebelum dinaikkan pemerintah akhir May 2008 kemarin, yaitu Rp 4,500 untuk premium, dan Rp 4,300 untuk solar.
Ketika BBM naik tahun lalu, pagi hari setelah pengumuman kenaikan BBM, angkutan umum langsung serempak menaikkan tarifnya dari mulai Rp 500 sampai Rp 1000 per jenis angkutan. Untuk angkutan umum jenis Metromini, tarif dari Rp 2,000 per trip, menjadi Rp 2,500 per trip. Sedangkan untuk angkutan umum jenis Mikrolet, yang biasanya untuk jarak yang sama Rp 2,000, sekarang menjadi Rp 3,000. Untuk Patas AC, yang biasanya Rp 6,000 menjadi Rp 7,000. Sedangkan Patas AC jarak jauh berubah dari Rp 8,000 menjadi Rp 9,000.
Kenaikan tarif angkutan saat itu alasan utamanya adalah kenaikan BBM, dan memang di setiap angkutan kota yang saya naiki beberapa hari setelah kenaikan BBM, ada pengumuman tertulis dari pengelolanya (biasanya kepala koperasinya yang tanda tangan), bahwa tarif angkutan naik disebabkan oleh naiknya harga BBM.
Saat ini, dengan level harga BBM yang sama dengan sebelum kenaikan tahun lalu, tarif angkutan tak sedikit pun turun. Alasan yang dibuat oleh para pengelola angkutan umum adalah kenaikan biaya spare part, yang sebenarnya menurut saya tidak dapat dijadikan referensi, karena angkutan umum mana yang kendaraannya terawat dengan baik? Andaikata ada yang bagus pun, itu bukan karena perawatan yang baik, namun rekondisi sehingga menjadi seperti baru kembali, dan itu bukan perawatan, melainkan investasi baru.
Pemerintah kabarnya sih sedang melakukan tekanan kepada pihak pengelola angkutan untuk menurunkan tarifnya, tapi sampai saat ini pihak pengelola masih bertahan, dan jika sampai turun, mereka hanya rela Rp 200 per trip, yang artinya tidak juga turun, karena sekarang ini untuk kepentingan kembalian, minimal uang terkecil adalah Rp 500, berarti diharapkan penurunan minimal kelipatan Rp 500.
Jadi percaya kan kalo teka-teki jaman saya kecil dulu itu sudah tidak valid lagi?
Lihat saja faktanya, sejak tanggal 15 Januari 2009 lalu, BBM sudah pada level yang sama sebelum dinaikkan pemerintah akhir May 2008 kemarin, yaitu Rp 4,500 untuk premium, dan Rp 4,300 untuk solar.
Ketika BBM naik tahun lalu, pagi hari setelah pengumuman kenaikan BBM, angkutan umum langsung serempak menaikkan tarifnya dari mulai Rp 500 sampai Rp 1000 per jenis angkutan. Untuk angkutan umum jenis Metromini, tarif dari Rp 2,000 per trip, menjadi Rp 2,500 per trip. Sedangkan untuk angkutan umum jenis Mikrolet, yang biasanya untuk jarak yang sama Rp 2,000, sekarang menjadi Rp 3,000. Untuk Patas AC, yang biasanya Rp 6,000 menjadi Rp 7,000. Sedangkan Patas AC jarak jauh berubah dari Rp 8,000 menjadi Rp 9,000.
Kenaikan tarif angkutan saat itu alasan utamanya adalah kenaikan BBM, dan memang di setiap angkutan kota yang saya naiki beberapa hari setelah kenaikan BBM, ada pengumuman tertulis dari pengelolanya (biasanya kepala koperasinya yang tanda tangan), bahwa tarif angkutan naik disebabkan oleh naiknya harga BBM.
Saat ini, dengan level harga BBM yang sama dengan sebelum kenaikan tahun lalu, tarif angkutan tak sedikit pun turun. Alasan yang dibuat oleh para pengelola angkutan umum adalah kenaikan biaya spare part, yang sebenarnya menurut saya tidak dapat dijadikan referensi, karena angkutan umum mana yang kendaraannya terawat dengan baik? Andaikata ada yang bagus pun, itu bukan karena perawatan yang baik, namun rekondisi sehingga menjadi seperti baru kembali, dan itu bukan perawatan, melainkan investasi baru.
Pemerintah kabarnya sih sedang melakukan tekanan kepada pihak pengelola angkutan untuk menurunkan tarifnya, tapi sampai saat ini pihak pengelola masih bertahan, dan jika sampai turun, mereka hanya rela Rp 200 per trip, yang artinya tidak juga turun, karena sekarang ini untuk kepentingan kembalian, minimal uang terkecil adalah Rp 500, berarti diharapkan penurunan minimal kelipatan Rp 500.
Jadi percaya kan kalo teka-teki jaman saya kecil dulu itu sudah tidak valid lagi?
Label:
Berusaha
Sabtu, November 22, 2008
Wisata Kuliner Bagian 1
Hari Sabtu Pagi, 15 November 2008, saya dan istri memulai perjalanan pertama wisata kuliner kami di Pancious Pancake Permata Hijau. Kami sengaja memilih pagi, karena disana ada menu breakfast dan juga supaya tidak terlalu rame pengunjung.
Walaupun niatnya pagi-pagi, tetap saja nyampe disana jam 10-an. Masih bisa untuk pesan menu breakfast di sana. Pilihan menu akhirnya jatuh pada Complete Breakfast untuk istri, dan Omelet untuk saya.
Rasanya.....hm, enak deh, porsinya cukup banyak, gak kenyang banget sih, ya secara umum baik. Soal rasa saya rekomen deh.
Harganya.....nah ini nih yang paling gak nyaman. Baru kali ini makan pagi sama istri ngabisin uang 80 ribu lebih, padahal yang dipesen cuma dua diatas plus teh hangat, jadi silakan tebak sendiri harganya.
Yah sekali-sekali bolehlah nyoba makan pagi 80rb-an, mudah-mudahan gak sering, lagipula ini kan wisata kuliner, artinya 1 tempat hanya dikunjungi 1 kali.
Tunggu wisata kuliner kami berikutnya
Label:
Berkeluarga
Selasa, Oktober 07, 2008
Hasil Mudik : Korban Tewas 528 Jiwa
Mudik...
Salah satu kegiatan wajib tahunan yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Mudik adalah pulang ke kampung halaman ketika waktunya berlebaran. Banyak moda transportasi tersedia untuk mudik, seperti Pesawat Terbang, Kereta Api, Kapal Laut Bus, Mobil dan Motor.
Untuk kepraktisan, memang pesawat terbang dan kereta api menduduki peringkat atas, karena yang perlu dilakukan hanyalah memesan tiket jauh-jauh hari, dan berdoa agar jadwalnya tidak telat. Trus tinggal duduk manis (kalo dapat tempat duduk di Kereta Api), nikmati perjalanan sampai tujuan. Yang paling menjadi concern hanyalah masalah teknis, apakah ada kerusakan jalur, atau mungkin kerusakan mesin sehingga pesawat tidak dapat take off.
Nah, masalahnya pesawat terbang dan kereta api yang tersedia, tidak mampu menampung seluruh peserta mudik, sehingga sebagian harus menggunakan transportasi darat dengan jalur biasa yang selama ini selalu dilaporkan oleh berbagai media mengenai kondisi jalannya.
Bus memang tetap jadi pilihan, namun beberapa tahun terakhir ini, jumlah pemakai bus untuk mudik semakin menurun seiring meningkatnya pemakaian motor untuk mudik. Jadilah yang terbanyak untuk mudik kali ini menggunakan moda transportasi motor dan mobil.
Melihat aspek keselamatan, tentunya menggunakan mobil pribadi atau bahkan motor pribadi untuk perjalanan jarak jauh tentunya cukup berbahaya. Masalah bukan hanya pada hal teknis, namun lebih banyak kepada masalah non-teknis, seperti ngantuk, lelah, kurang konsentrasi dan lain sebagainya.
Kecelakaan....
Data kecelakaan untuk transportasi darat menggunakan bus, mobil dan motor hingga hari Senin lalu (06 Oktober 2008) adalah korban tewas sejumlah 528 jiwa.
Betapa tragis, 528 orang tewas sia-sia dalam perjalanan mudik, dan angka ini kabarnya adalah angka yang meningkat dibandingkan tahun lalu. Penyebab kecelakaan didominasi oleh kelalaian manusia, atau human error. Jika sudah ini yang menjadi penyebab, maka biasanya pemerintah dalam hal ini polisi dan departemen perhubungan dan instansi lain yang terkait hanya sekedar mencatat angka-angka di lapangan untuk laporan semata. Padahal kalau sudah tau bahwa masalahnya adalah human error, maka seharusnya instansi terkait tersebut melakukan tindakan preventif untuk mengurangi secara signifikan angka-angka tersebut, supaya di tahun-tahun mendatang tidak lagi terjadi hal yang demikian.
Apakah mungkin angka 528 masih dianggap kecil dibandingkan jumlah pemudik yang terlibat yang mencapai jutaan orang? Jangan lupa, kalau dalam satu komplek perumahan, ada kematian secara simultan sebanyak 528 orang, apa gak kelabakan tuh? mulai dari mandiinnya, sholatinnya, dan juga nguburinnya....
Atau, jika di sebuah perusahaan ada tiba-tiba 528 karyawannnya tewas, apa gak pincang tuh perusahaan? Susah lagi untuk ngerekrut, apalagi kalau yang tewas itu adalah karyawan kunci di perusahaan tersebut....
Apakah pemerintah kita tidak memikirkan yang seperti ini? mungkin jawabannya masih, cuma gak mau detail....yang penting bukan saya dan keluarga saya yang kena.....
Apakah harus keluarga dulu yang kena baru kita sadar? Apakah harus teman dekat dulu yang kena baru kita bertindak? Mungkin saat kita bertindak, kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi nantinya.
Human Error....
Human error, adalah salah satu kambing hitam yang paling mudah dalam satu peristiwa kecelakaan. Padahal dalam unsur safety, human error ini adalah hal yang paling bisa dicegah. Buktinya di beberapa perusahaan yang mengedepankan safety, sangat jarang ditemui adanya kecelakaan yang disebabkan human error. Setidak-tidaknya triggernya bukan karena human error, walaupun kalau masalah teknis kadang-kadang juga akibat dari human error.
Untuk di jalan raya, human error dapat pula dicegah, dan sangat mungkin untuk mencegahnya. Saya sendiri bingung, kenapa bisa segitu banyak terjadi kecelakaan sepanjang mudik lebaran, bukankah jalanannya padat merayap? Kalau sundul mobil satu dua sih rasanya tidak mungkin ada korban jiwa, tapi ini sampai 528 orang, berarti kan saat kecelakaan kecepatannya cukup tinggi, padahal untuk mendapatkan kecepatan yang tinggi kan susah kalo kondisi jalan dari mulai Jakarta hingga kampung halaman semuanya padat merayap......
Itulah uniknya peristiwa ini, di satu sisi, kita disuguhkan oleh kemacetan di berbagai titik ketika mudik, tapi di sisi lain, banyak terjadi kecelakaan yang sampai merenggut nyawa dan kalau diperkirakan kecepatan ketika terjadi kecelakaan adalah kecepatan yang cukup tinggi.
Lalu dimana salahnya? menurut instansi berwenang, adalah human error, atau kalimat redaksionalnya adalah ketidaktaatan pengendara kepada rambu-rambu lalu lintas yang dipasang. Nah kalau udah tau masalahnya seperti itu, kenapa tiap tahun berulang terus? Apa semua ini dibiarkan saja mengalir, dan jika beruntung, maka jumlah kecelakaan dan orang yang tewas juga akan berkurang? Tentu tidak!!! harus ada sesuatu yang dilakukan....
Sebenarnya kalau masalah kecelakaan itu hanyalah masalah teknis, tentunya tindakan pencegahan dapat dengan mudah dilakukan, contohnya, kecelakaan karena rambu lalu lintas di daerah tersebut kurang memadai, sehingga tinggal lakukan pemesanan rambu lalu lintas, trus dipasang, jadi deh....gampang!!! Masalahnya ini adalah human error. Dan human error itu yang paling susah. Namun kalau tidak ada tindakan apa-apa, ya sama aja, tinggal nunggu nasib sial kalau gitu.
Sekarang katakanlah alasannya memang seperti di atas, yaitu ketidaktaatan pengendara kepada rambu lalu lintas. Nah, faktor penyebab ketidaktaatan ini apa? Misalkan pengendara tidak mengerti mengenai rambu lalu lintas, trus penyebab tidak mengertinya apa? padahal kan sudah ada SIM yang dikeluarkan kepolisian yang salah satu ujiannya adalah mengenai rambu lalu lintas. Trus kalau pengendara tidak mengerti mengenai rambu, kenapa bisa dapat SIM?
Apa mungkin root causenya adalah penerbitan SIM? bisa jadi, karena saat saya mengambil SIM pertama kali beberapa tahun yang lalu, baik mobil ataupun motor saya ditawarkan untuk memperoleh SIM tanpa test tapi harus bayar. Saat itu untuk masing-masing SIM saya harus membayar sekitar 200-300 ribu. Saya memang tidak tau test apa saja dalam ujian SIM, namun saya berusaha mencari tahu lebih banyak mengenai teknik-teknik mengemudi yang baik dan juga aman. Saya belajar bagaimana teknik untuk parkir paralel, yang nyatanya kalau kita tahu tekniknya, rupanya cukup mudah untuk dilakukan, kalau belum tau tekniknya, bisa beberapa menit tuh untuk bisa parkir paralel.
Selain mempelajari teknik, saya juga mencari tahu mengenai berkendara yang aman. Hal pertama yang paling saya ingat untuk keselamatan ketika berkendara adalah menggunakan seat belt. Dulu, sebelum saya bisa nyetir sendiri, seat belt sangat jarang dipakai, namun setelah beberapa bulan bisa nyetir sendiri, memaksakan diri untuk terus memakai seat belt, sehingga saat ini, kalo naik mobil tanpa menggunakan seat belt rasanya risih....
Di samping itu saya juga banyak belajar tentang persiapan kendaraan, terutama kalau ingin melakukan perjalanan jarak jauh. Cek kondisi ban merupakan salah satu hal yang penting sebelum melakukan perjalanan. Karena ajaibnya, ban yang punya angin kurang, mempunyai probabilitas untuk pecah lebih besar daripada ban yang cukup anginnya. Biasanya sih ban pecah kalau kecepatan tinggi (kemungkinan di atas 100 km/jam) atau muatan penuh dan kondisi ban lebih kempes dari seharusnya. Karena tau bahwa kecepatan di atas 100 km/jam cukup berbahaya, walaupun kita tau bahwa kondisi ban kita baik, namun kita belum bisa yakin 100% ketika mobil kita keluar komplek, tidak terkena paku kecil di jalanan, yang akan sangat berbahaya kalau berkendara di atas 100 km/jam.
Lagipula, sekarang kan bensin sudah mahal, buat apa berkendara di atas 100 km/jam? Bensin yang digunakan semakin banyak, dan kurang santai dalam menyetir, karena harus full konsentrasi terus menerus. Saya biasa berkendara di kecepatan 70 - 90 km/jam jika di jalan tol, dan 60 km/jam di luar jalan tol. Mungkin gak terlalu cepat, tapi saya yakin saya cukup santai, dan juga sambil berharap pemakaian bensin lebih irit dari biasanya.
Tentu masih banyak lagi tips dan trick yang perlu diketahui mengenai teknik mengemudi yang benar dan aman. Masalahnya masih banyak orang kita yang tidak tau teknik yang benar, apalagi yang aman. Mereka yakin dengan pengalamannya, yang mungkin selama 30-40 tahun hidupnya diisi dengan mengemudi. Pengalaman memang membuat kita lebih terbiasa, tapi kalau yang dilakukan setiap hari itu adalah tindakan yang salah, mau berpengalaman bagaimanapun, tetap juga salah. Masalahnya ada kejadian emergency yang kalau orang tidak tahu maka biarpun pengalaman menyetirnya sudah puluhan tahun, dan ketika dia mengalami kejadian emergency tersebut, maka sama saja dia seperti orang baru bisa nyetir dan mengalami emergency. Emergency yang saya maksud disini adalah, adanya kejadian di luar keinginan kita terhadap segala kondisi yang membuat pengalaman menyetir kita menjadi kurang enak. Mulai dari ban kempes, jalan yang bergelombang, hingga mengalami pecah ban.
Sekarang contoh aja, ada wanita yang katakanlah umurnya sudah 40 tahun. Dia sudah dapat nyetir sejak umur 17 tahun karena saat kuliah lalu orangtuanya telah membelikannya sebuah mobil untuk dikendarainya buat kuliah. Tentu kalau pengalaman menyetir sudah 23 tahun, tentunya kita pun tak ragu lagi akan kemampuannya. Tapi andaikata, selama 23 tahun dia menyetir, tidak pernah sekalipun mengalami kempes ban di jalanan, dan di saat dia lagi butuh untuk buru-buru ke tempat kerjanya dan mengalami kempes ban, maka dia akan kesulitan untuk sekedar mengganti ban sendiri. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu kerabat, atau orang yang bersedia menolong dengan imbalan tertentu untuk menggantikan bannya, atau mencari tambal ban terdekat. Dia tidak siap dengan keadaan emergency ini. Untungnya cuma kempes ban, bagaimana kalau pecah ban depan dalam kecepatan tinggi? Apa yang harus dilakukan? Kalau tidak pernah mengalami pecah ban, tentunya, begitu mendengar ada yang meletus, reflek sebagai pengendara adalah menginjak rem!!! padahal ketika mengalami pecah ban depan dalam kecepatan tinggi, menginjak rem adalah hal yang tidak boleh dilakukan, karena bila dilakukan, mobil bisa terbalik dan tentunya kita tidak akan tahu lagi apa akibat lanjutan bila mobil kita terbalik. Yang harus dilakukan adalah tetap tenang, kendurkan gas, dan turunkan kecepatan secara perlahan-lahan, sambil menahan setir untuk menghindari berpindah jalur terlalu jauh. Cara ini juga saya dapatkan dari belajar, saya belum pernah sekalipun mempraktekannya, karena beruntunglah orang yang mampu mempraktekannya, dan dia masih bisa hidup dan dapat menyetir kembali saat ini, karena mungkin sangat langka.
Namun apakah teknik-teknik seperti ini dapat diakses oleh orang kebanyakan? Berapa banyak pengendara yang cuma mengandalkan pengalaman dari orangtuanya, temannya, kakaknya, dan sudah berani untuk berjibaku di jalan raya yang tidak mengenal belas kasihan?
Usaha dari Polri dan instansi terkait selama ini sebenarnya sudah cukup simpatik. Kampanye mengenai keselamatan berkendara banyak dilakukan. Namun yang benar-benar mendapatkan edukasi mungkin hanya sebagian kecil kelompok, yang lain hanyalah dapat melihat spanduk-spanduk yang bertuliskan anjuran. Apakah perilaku orang dapat diubah dengan hanya anjuran? Di perusahaan yang mengedepankan safety, anjuran disertai dengan sikap represif, seperti, nilai tahunan nanti akan jelek kalau safety habitnya kurang baik, atau akan dicatat sebagai pertimbangan kenaikan gaji, jika dalam satu tahun tersebut kita pernah mengalami kecelakaan kerja. Sehingga paling tidak, orang sadar tidak akan melakukan pelanggaran, karena mereka tahu, jika mereka melanggarnya, mereka sendiri yang akan rugi...
Penutup....
Semakin hari, semakin banyak saja jumlah kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban jiwa. Setiap orang tahu, kecelakaan dapat menyebabkan kehidupan suatu keluarga berubah dalam sekejap. Jika suatu kendaraan yang penuh penumpang yang notabene satu keluarga, dan mengalami kecelakaan, kemudian seluruh penumpang dalam kendaraan itu tewas, maka bagaimana dengan harta benda mereka? bagaimana dengan rencana jangka panjang mereka? bagaimana dengan orang-orang terkasih mereka? bagaimana dengan orang-orang yang selama ini bergantung kepada mereka? bagaimana dengan anggota keluarga yang tidak ikut dalam kendaraan itu? Tentunya satu hal yang pasti, segalanya akan berubah!!!! Dan perubahan itu sangat radikal!!! Dan kebanyakan perubahan radikal tersebut ke arah yang tidak diinginkan, dan untuk kembali ke arah yang diinginkan butuh usaha yang lebih keras lagi dari anggota keluarga yang masih hidup.
Maukah anda membiarkan anak-anak anda menjadi yatim-piatu padahal mereka belum mengerti apa-apa? Maukah anda membuat mimpi anak-anak anda menjadi bubar karena kehilangan orang yang selama ini mendidik mereka? Maukah anda membiarkan keluarga anda tiba-tiba jatuh miskin, padahal selama ini anda mati-matian mencari duit untuk kesejahteraan keluarga anda?
Pilihan tergantung anda, jangan terlalu berharap kepada instansi terkait, selama pembuatan SIM masih bisa pakai jalur cepat.
Salah satu kegiatan wajib tahunan yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Mudik adalah pulang ke kampung halaman ketika waktunya berlebaran. Banyak moda transportasi tersedia untuk mudik, seperti Pesawat Terbang, Kereta Api, Kapal Laut Bus, Mobil dan Motor.
Untuk kepraktisan, memang pesawat terbang dan kereta api menduduki peringkat atas, karena yang perlu dilakukan hanyalah memesan tiket jauh-jauh hari, dan berdoa agar jadwalnya tidak telat. Trus tinggal duduk manis (kalo dapat tempat duduk di Kereta Api), nikmati perjalanan sampai tujuan. Yang paling menjadi concern hanyalah masalah teknis, apakah ada kerusakan jalur, atau mungkin kerusakan mesin sehingga pesawat tidak dapat take off.
Nah, masalahnya pesawat terbang dan kereta api yang tersedia, tidak mampu menampung seluruh peserta mudik, sehingga sebagian harus menggunakan transportasi darat dengan jalur biasa yang selama ini selalu dilaporkan oleh berbagai media mengenai kondisi jalannya.
Bus memang tetap jadi pilihan, namun beberapa tahun terakhir ini, jumlah pemakai bus untuk mudik semakin menurun seiring meningkatnya pemakaian motor untuk mudik. Jadilah yang terbanyak untuk mudik kali ini menggunakan moda transportasi motor dan mobil.
Melihat aspek keselamatan, tentunya menggunakan mobil pribadi atau bahkan motor pribadi untuk perjalanan jarak jauh tentunya cukup berbahaya. Masalah bukan hanya pada hal teknis, namun lebih banyak kepada masalah non-teknis, seperti ngantuk, lelah, kurang konsentrasi dan lain sebagainya.
Kecelakaan....
Data kecelakaan untuk transportasi darat menggunakan bus, mobil dan motor hingga hari Senin lalu (06 Oktober 2008) adalah korban tewas sejumlah 528 jiwa.
Betapa tragis, 528 orang tewas sia-sia dalam perjalanan mudik, dan angka ini kabarnya adalah angka yang meningkat dibandingkan tahun lalu. Penyebab kecelakaan didominasi oleh kelalaian manusia, atau human error. Jika sudah ini yang menjadi penyebab, maka biasanya pemerintah dalam hal ini polisi dan departemen perhubungan dan instansi lain yang terkait hanya sekedar mencatat angka-angka di lapangan untuk laporan semata. Padahal kalau sudah tau bahwa masalahnya adalah human error, maka seharusnya instansi terkait tersebut melakukan tindakan preventif untuk mengurangi secara signifikan angka-angka tersebut, supaya di tahun-tahun mendatang tidak lagi terjadi hal yang demikian.
Apakah mungkin angka 528 masih dianggap kecil dibandingkan jumlah pemudik yang terlibat yang mencapai jutaan orang? Jangan lupa, kalau dalam satu komplek perumahan, ada kematian secara simultan sebanyak 528 orang, apa gak kelabakan tuh? mulai dari mandiinnya, sholatinnya, dan juga nguburinnya....
Atau, jika di sebuah perusahaan ada tiba-tiba 528 karyawannnya tewas, apa gak pincang tuh perusahaan? Susah lagi untuk ngerekrut, apalagi kalau yang tewas itu adalah karyawan kunci di perusahaan tersebut....
Apakah pemerintah kita tidak memikirkan yang seperti ini? mungkin jawabannya masih, cuma gak mau detail....yang penting bukan saya dan keluarga saya yang kena.....
Apakah harus keluarga dulu yang kena baru kita sadar? Apakah harus teman dekat dulu yang kena baru kita bertindak? Mungkin saat kita bertindak, kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi nantinya.
Human Error....
Human error, adalah salah satu kambing hitam yang paling mudah dalam satu peristiwa kecelakaan. Padahal dalam unsur safety, human error ini adalah hal yang paling bisa dicegah. Buktinya di beberapa perusahaan yang mengedepankan safety, sangat jarang ditemui adanya kecelakaan yang disebabkan human error. Setidak-tidaknya triggernya bukan karena human error, walaupun kalau masalah teknis kadang-kadang juga akibat dari human error.
Untuk di jalan raya, human error dapat pula dicegah, dan sangat mungkin untuk mencegahnya. Saya sendiri bingung, kenapa bisa segitu banyak terjadi kecelakaan sepanjang mudik lebaran, bukankah jalanannya padat merayap? Kalau sundul mobil satu dua sih rasanya tidak mungkin ada korban jiwa, tapi ini sampai 528 orang, berarti kan saat kecelakaan kecepatannya cukup tinggi, padahal untuk mendapatkan kecepatan yang tinggi kan susah kalo kondisi jalan dari mulai Jakarta hingga kampung halaman semuanya padat merayap......
Itulah uniknya peristiwa ini, di satu sisi, kita disuguhkan oleh kemacetan di berbagai titik ketika mudik, tapi di sisi lain, banyak terjadi kecelakaan yang sampai merenggut nyawa dan kalau diperkirakan kecepatan ketika terjadi kecelakaan adalah kecepatan yang cukup tinggi.
Lalu dimana salahnya? menurut instansi berwenang, adalah human error, atau kalimat redaksionalnya adalah ketidaktaatan pengendara kepada rambu-rambu lalu lintas yang dipasang. Nah kalau udah tau masalahnya seperti itu, kenapa tiap tahun berulang terus? Apa semua ini dibiarkan saja mengalir, dan jika beruntung, maka jumlah kecelakaan dan orang yang tewas juga akan berkurang? Tentu tidak!!! harus ada sesuatu yang dilakukan....
Sebenarnya kalau masalah kecelakaan itu hanyalah masalah teknis, tentunya tindakan pencegahan dapat dengan mudah dilakukan, contohnya, kecelakaan karena rambu lalu lintas di daerah tersebut kurang memadai, sehingga tinggal lakukan pemesanan rambu lalu lintas, trus dipasang, jadi deh....gampang!!! Masalahnya ini adalah human error. Dan human error itu yang paling susah. Namun kalau tidak ada tindakan apa-apa, ya sama aja, tinggal nunggu nasib sial kalau gitu.
Sekarang katakanlah alasannya memang seperti di atas, yaitu ketidaktaatan pengendara kepada rambu lalu lintas. Nah, faktor penyebab ketidaktaatan ini apa? Misalkan pengendara tidak mengerti mengenai rambu lalu lintas, trus penyebab tidak mengertinya apa? padahal kan sudah ada SIM yang dikeluarkan kepolisian yang salah satu ujiannya adalah mengenai rambu lalu lintas. Trus kalau pengendara tidak mengerti mengenai rambu, kenapa bisa dapat SIM?
Apa mungkin root causenya adalah penerbitan SIM? bisa jadi, karena saat saya mengambil SIM pertama kali beberapa tahun yang lalu, baik mobil ataupun motor saya ditawarkan untuk memperoleh SIM tanpa test tapi harus bayar. Saat itu untuk masing-masing SIM saya harus membayar sekitar 200-300 ribu. Saya memang tidak tau test apa saja dalam ujian SIM, namun saya berusaha mencari tahu lebih banyak mengenai teknik-teknik mengemudi yang baik dan juga aman. Saya belajar bagaimana teknik untuk parkir paralel, yang nyatanya kalau kita tahu tekniknya, rupanya cukup mudah untuk dilakukan, kalau belum tau tekniknya, bisa beberapa menit tuh untuk bisa parkir paralel.
Selain mempelajari teknik, saya juga mencari tahu mengenai berkendara yang aman. Hal pertama yang paling saya ingat untuk keselamatan ketika berkendara adalah menggunakan seat belt. Dulu, sebelum saya bisa nyetir sendiri, seat belt sangat jarang dipakai, namun setelah beberapa bulan bisa nyetir sendiri, memaksakan diri untuk terus memakai seat belt, sehingga saat ini, kalo naik mobil tanpa menggunakan seat belt rasanya risih....
Di samping itu saya juga banyak belajar tentang persiapan kendaraan, terutama kalau ingin melakukan perjalanan jarak jauh. Cek kondisi ban merupakan salah satu hal yang penting sebelum melakukan perjalanan. Karena ajaibnya, ban yang punya angin kurang, mempunyai probabilitas untuk pecah lebih besar daripada ban yang cukup anginnya. Biasanya sih ban pecah kalau kecepatan tinggi (kemungkinan di atas 100 km/jam) atau muatan penuh dan kondisi ban lebih kempes dari seharusnya. Karena tau bahwa kecepatan di atas 100 km/jam cukup berbahaya, walaupun kita tau bahwa kondisi ban kita baik, namun kita belum bisa yakin 100% ketika mobil kita keluar komplek, tidak terkena paku kecil di jalanan, yang akan sangat berbahaya kalau berkendara di atas 100 km/jam.
Lagipula, sekarang kan bensin sudah mahal, buat apa berkendara di atas 100 km/jam? Bensin yang digunakan semakin banyak, dan kurang santai dalam menyetir, karena harus full konsentrasi terus menerus. Saya biasa berkendara di kecepatan 70 - 90 km/jam jika di jalan tol, dan 60 km/jam di luar jalan tol. Mungkin gak terlalu cepat, tapi saya yakin saya cukup santai, dan juga sambil berharap pemakaian bensin lebih irit dari biasanya.
Tentu masih banyak lagi tips dan trick yang perlu diketahui mengenai teknik mengemudi yang benar dan aman. Masalahnya masih banyak orang kita yang tidak tau teknik yang benar, apalagi yang aman. Mereka yakin dengan pengalamannya, yang mungkin selama 30-40 tahun hidupnya diisi dengan mengemudi. Pengalaman memang membuat kita lebih terbiasa, tapi kalau yang dilakukan setiap hari itu adalah tindakan yang salah, mau berpengalaman bagaimanapun, tetap juga salah. Masalahnya ada kejadian emergency yang kalau orang tidak tahu maka biarpun pengalaman menyetirnya sudah puluhan tahun, dan ketika dia mengalami kejadian emergency tersebut, maka sama saja dia seperti orang baru bisa nyetir dan mengalami emergency. Emergency yang saya maksud disini adalah, adanya kejadian di luar keinginan kita terhadap segala kondisi yang membuat pengalaman menyetir kita menjadi kurang enak. Mulai dari ban kempes, jalan yang bergelombang, hingga mengalami pecah ban.
Sekarang contoh aja, ada wanita yang katakanlah umurnya sudah 40 tahun. Dia sudah dapat nyetir sejak umur 17 tahun karena saat kuliah lalu orangtuanya telah membelikannya sebuah mobil untuk dikendarainya buat kuliah. Tentu kalau pengalaman menyetir sudah 23 tahun, tentunya kita pun tak ragu lagi akan kemampuannya. Tapi andaikata, selama 23 tahun dia menyetir, tidak pernah sekalipun mengalami kempes ban di jalanan, dan di saat dia lagi butuh untuk buru-buru ke tempat kerjanya dan mengalami kempes ban, maka dia akan kesulitan untuk sekedar mengganti ban sendiri. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu kerabat, atau orang yang bersedia menolong dengan imbalan tertentu untuk menggantikan bannya, atau mencari tambal ban terdekat. Dia tidak siap dengan keadaan emergency ini. Untungnya cuma kempes ban, bagaimana kalau pecah ban depan dalam kecepatan tinggi? Apa yang harus dilakukan? Kalau tidak pernah mengalami pecah ban, tentunya, begitu mendengar ada yang meletus, reflek sebagai pengendara adalah menginjak rem!!! padahal ketika mengalami pecah ban depan dalam kecepatan tinggi, menginjak rem adalah hal yang tidak boleh dilakukan, karena bila dilakukan, mobil bisa terbalik dan tentunya kita tidak akan tahu lagi apa akibat lanjutan bila mobil kita terbalik. Yang harus dilakukan adalah tetap tenang, kendurkan gas, dan turunkan kecepatan secara perlahan-lahan, sambil menahan setir untuk menghindari berpindah jalur terlalu jauh. Cara ini juga saya dapatkan dari belajar, saya belum pernah sekalipun mempraktekannya, karena beruntunglah orang yang mampu mempraktekannya, dan dia masih bisa hidup dan dapat menyetir kembali saat ini, karena mungkin sangat langka.
Namun apakah teknik-teknik seperti ini dapat diakses oleh orang kebanyakan? Berapa banyak pengendara yang cuma mengandalkan pengalaman dari orangtuanya, temannya, kakaknya, dan sudah berani untuk berjibaku di jalan raya yang tidak mengenal belas kasihan?
Usaha dari Polri dan instansi terkait selama ini sebenarnya sudah cukup simpatik. Kampanye mengenai keselamatan berkendara banyak dilakukan. Namun yang benar-benar mendapatkan edukasi mungkin hanya sebagian kecil kelompok, yang lain hanyalah dapat melihat spanduk-spanduk yang bertuliskan anjuran. Apakah perilaku orang dapat diubah dengan hanya anjuran? Di perusahaan yang mengedepankan safety, anjuran disertai dengan sikap represif, seperti, nilai tahunan nanti akan jelek kalau safety habitnya kurang baik, atau akan dicatat sebagai pertimbangan kenaikan gaji, jika dalam satu tahun tersebut kita pernah mengalami kecelakaan kerja. Sehingga paling tidak, orang sadar tidak akan melakukan pelanggaran, karena mereka tahu, jika mereka melanggarnya, mereka sendiri yang akan rugi...
Penutup....
Semakin hari, semakin banyak saja jumlah kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban jiwa. Setiap orang tahu, kecelakaan dapat menyebabkan kehidupan suatu keluarga berubah dalam sekejap. Jika suatu kendaraan yang penuh penumpang yang notabene satu keluarga, dan mengalami kecelakaan, kemudian seluruh penumpang dalam kendaraan itu tewas, maka bagaimana dengan harta benda mereka? bagaimana dengan rencana jangka panjang mereka? bagaimana dengan orang-orang terkasih mereka? bagaimana dengan orang-orang yang selama ini bergantung kepada mereka? bagaimana dengan anggota keluarga yang tidak ikut dalam kendaraan itu? Tentunya satu hal yang pasti, segalanya akan berubah!!!! Dan perubahan itu sangat radikal!!! Dan kebanyakan perubahan radikal tersebut ke arah yang tidak diinginkan, dan untuk kembali ke arah yang diinginkan butuh usaha yang lebih keras lagi dari anggota keluarga yang masih hidup.
Maukah anda membiarkan anak-anak anda menjadi yatim-piatu padahal mereka belum mengerti apa-apa? Maukah anda membuat mimpi anak-anak anda menjadi bubar karena kehilangan orang yang selama ini mendidik mereka? Maukah anda membiarkan keluarga anda tiba-tiba jatuh miskin, padahal selama ini anda mati-matian mencari duit untuk kesejahteraan keluarga anda?
Pilihan tergantung anda, jangan terlalu berharap kepada instansi terkait, selama pembuatan SIM masih bisa pakai jalur cepat.
Label:
Berusaha
Langganan:
Postingan (Atom)