Berbicara masalah liburan tentunya tidak lepas dari masalah makanan. Terus terang di liburan kali ini untuk urusan yang satu ini tidak ada rencana sama sekali. Sebenarnya ada tapi tidak jadi dilaksanakan karena padatnya jadwal acara.
Wisata kuliner memang sangat mengasyikan, namun perjalanan kali ini tidak fokus ke arah sana. Makan hanya sekedar untuk pengganjal perut dan tidak terlalu peduli mengenai masalah rasa. Inilah pengalaman makan selama di Singapore.
Beberapa kali kita makan di food court pinggir jalan, seperti di jalan lavender dan dekat bugis junction. Kebetulan di kedua food court tersebut banyak ditemukan pork (babi) yang jelas-jelas tidak dapat kami makan. Saya sebagai seorang vegetarian tidak terlalu kesulitan untuk makan karena banyak juga sayuran yang dijual disana.
Kesulitan baru terjadi bagi seorang vegetarian, manakala keluarga lebih memilih makanan semacam KFC, McD dan kawan-kawannnya untuk memenuhi selera makan anak-anak kecil. Di restoran-restoran seperti ini, makanan vegetarian, bahkan yang mengandung ikan juga sulit dijumpai, hingga saya kadang hanya mengkonsumsi kentang dan sedikit salad untuk makan.
Untungnya sarapan disediakan di penginapan yang berupa roti tawar dengan selai dan sereal. Dua hal itu lebih dari cukup untuk mengisi perut, tapi tetap saja membuat sendiri pop mie untuk anak kecil. Kasihan anak kecil sekarang, makanannya serba instan dan uniknya mereka suka dengan itu.
Dengan gaya makan seperti itu, kami dapat menghemat pengeluaran makan cukup besar. Budget yang kami tetapkan adalah $10 per orang per kali makan, termasuk minum dan snack, namun rata-rata habisnya cuma $5 per orang. Mengenai laporan biaya akan dibahas lebih lengkap di bagian biaya.
Jadi jangan harapkan kami akan cerita makan enak di tempat X, atau coba makanan B di tempat Y. O ya ada satu yang agak terkesan, yaitu makan siang di basement Lucky Plasa Orchard Road. Di food court tersebut ada yang jual makanan (namanya ada kata Asian Food-nya) yang menjual makanan yang isinya kita pilih sebanyak tujuh buah, nanti dia akan menambahkan dengan kuah. Harganya $4.70 dolar dan rasanya cukup enak. Bahkan paling enak dari seluruh makanan yang kita rasakan selama di Singapore.
Lebih baik cari-cari informasi mengenai kuliner terbaik di Singapore untuk mengalami wisata kuliner sekaligus. Sayang fokus liburan kami lebih ke arah jalan-jalan di dalam kota bukan untuk wisata kuliner.
Ada alasan nih untuk balik lagi ke Singapore, hehehe
Minggu, Maret 14, 2010
Family Trip to Singapore (5th - City Transportation)
Yang kita tahu dari awal adalah Singapore mempunyai sistem transportasi yang sangat memadai. Ada MRT dan juga bus yang menggunakan sistem tiket. Tapi itu belum pernah dibuktikan sendiri sampai benar-benar berada di sana. Jadi selama berada di Singapore, saya mengharamkan diri menggunakan taksi sebagai alat transportasi. Kenapa mengharamkan? karena disini sistemnya katanya sudah sangat baik dan ingin membuktikannya.
Keluar dari bandara kita langsung menggunakan MRT. Karena kebanyakan yang ikutan belum pernah atau sudah lama sekali tidak ke Singapore, maka kami harus membeli starter pack tiket EZ-Link di MRT changi dengan harga $15 untuk adult dan $5 untuk anak kecil. Harga untuk adult termasuk biaya kartu $5, sehingga net value yang ada di kartu adalah $10. Namun untuk anak kecil harga tersebut sudah termasuk net value. Kebetulan saya dan istri meminjam EZ-Link dari kakak ipar, sehingga kami pun tidak perlu mengeluarkan $5 biaya kartu, tinggal top up value kartu tersebut.
Kartu yang telah dibeli dibagikan ke masing-masing orang dan ditempelkan ke sensor kartu pintu masuk peron MRT changi untuk membuka locknya. Yang anak-anak dibantu oleh orang tuanya dalam menempelkan ke sensor. Namun selanjutnya anak-anak diajari cara menempelkan ke sensor sehingga mereka memiliki pengalaman tersendiri.
Kereta datang ke peron kira-kira 5 menit setelah kami on-board. Di sana ada tulisan berapa menit lagi keretanya akan datang, dan itu sesuai dengan apa yang ditulis. Inilah yang sangat membedakan antara Singapore dengan Jakarta. Disini pengguna transportasi umum mendapatkan kepastian waktu kedatangan, andaikata terlambat pun paling hanya beberapa menit dari yang seharusnya. Di Jakarta kita tidak tahu sama sekali kapan angkutan umum akan datang. Kadang dua angkutan sekaligus, kadang tidak ada sama sekali dalam dua jam menunggu.
Suasana di dalam kereta seperti yang tergambarkan dalam filem holywood atau filem jepang. Di situ ada tempat duduk yang tulisannya 'reserved', yaitu direserved untuk orang tua, ibu hamil dan orang cacat. Beberapa kali saya lihat sendiri orang disitu memberikan tempat duduknya kepada beberapa kategori yang saya sebutkan sebelumnya. Hal ini juga saya banyak jumpai di Jakarta, walaupun agak jarang karena penuh-sesaknya bus atau kereta sehingga lelaki yang masih kuat sekalipun harus tertidur ketika di perjalanan.

Yang menarik dari sistem transportasi di Singapore adalah korelasi antara satu angkutan dengan lainnya. Ketika merasakan perjalanan dengan MRT, kita dua kali harus pindah kereta atau dengan kata lain pindah jalur. Hal ini mirip seperti Busway di Jakarta yang bisa pindah jalur busway di halte transfer. Penumpang disini dipaksa bergerak cepat dalam pindah jalur karena kereta dari jalur lain akan datang tepat ketika dia sampai di peron untuk jalur berikutnya. Jika berjalan lambat, maka dia akan ketinggalan kereta dan harus menunggu hingga 15 menit. Hal yang sama juga saya rasakan terhadap jadwal bus. Jika ingin transfer bus, maka harus berjalan cepat ketika ingin mengejar bus yang akan kita naiki berikutnya. Terlambat berjalan, maka bus sudah keburu pergi. Makanya saya rasakan orang berjalan di Singapore memiliki kecepatan yang lebih baik daripada di Jakarta karena memang mereka tahu bahwa mereka harus cepat jika tidak ingin ketinggalan karena ada kepastian jadwal. Bandingkan dengan Jakarta, ketika kita pindah jalur busway maka 99% kita akan mengalami penumpukan penumpang. Lagi-lagi karena tidak ada kepastian jadwal.
Informasi angkutan umum seperti bus dan MRT sangat mudah didapatkan baik dari terminal yang bersangkutan hingga dari internet. Jadwal MRT dan bus dapat dilihat dengan seksama di website yang bersangkutan, bahkan untuk bus ada semacam journey planner, dimana website tersebut menjawab pertanyaan kita tentang bus apa yang harus kita naiki jika kita mau pergi dari titik A ke titik B. Itulah sebabnya akses internet sangat dibutuhkan ketika merencanakan perjalanan di Singapore, terutama untuk yang baru pertama kali kesana. Dari lihat informasi di internet tersebut, kadang kita bisa memodifikasi rute kita dalam rangka menghemat waktu tempuh atau menghemat biaya angkutan.
Ada satu pengalaman kami selama di Singapore memodifikasi rute perjalanan. Dari hotel menuju Suntec City Convention Center, jika minta petunjuk dari website maka akan disarankan untuk jalan kaki terlebih dahulu sekitar 300 meter, kemudian naik bus nomor 133 langsung ke Suntec. Biayanya $0,91 untuk adult. Dengan dimodifikasi, kita bisa langsung naik bus nomor 145 dari depan hotel, terus turun di tiga halte berikutnya, lanjut naik nomor 133 ke Suntec. Jalan kakinya dikurangi hingga hampir tidak ada, dan biayanya pun berkurang $0.03 karena adanya transfer rebate.

Setiap ingin melakukan rencana perjalanan, maka kami selalu bertanya kepada website tersebut tentang bus dan halte, sehingga setiap perjalanan serasa terencana dan biayanya dapat diukur. Namun ada satu kejadian dimana kami benar-benar berhenti di luar rencana, sehingga terpaksa saya memutar otak untuk mengembalikan kita kembali ke hotel. Untung saja salah satu dari bus tersebut melewati jalan yang tadi sempat dilewati, sehingga langsung saja kita milih bus tersebut walaupun tidak tahu sedang berada dimana. Saya rasa jika bertanya kepada orang Singapore sekalipun tidak akan banyak membantu masalah bus ini, karena sepertinya mereka juga tidak terlalu hapal dengan bus yang bukan menjadi kebiasaannya.

MRT hanya digunakan pas pertama kali datang karena jalan menuju peron dan transfer ke jalur yang lain butuh jalan kaki yang cukup jauh, padahal di rombongan ada ibu yang di atas 50-an dan anak balita. Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada korelasi antar jalur dengan kecepatan jalan. Jika kecepatan jalan kurang, maka setiap kali ganti jalur kita akan kehilangan sampai 15 menit hanya untuk menunggu kereta berikutnya. Lagipula rencana perjalan kita tidak mengharuskan untuk mengambil MRT sebagai moda transportasi.
Dengan sistem transportasi yang sudah tertata baik seperti itu, jarang sekali kami menemukan kemacetan di sana, bahkan ketika di Suntec City Convention Center sedang ada pameran IT Show. Sebagai gantinya, pameran tersebut disesaki banyak orang, seperti ingin menonton konser artis luar negri karena untuk jalan saja susah sekali.
Kapan ya Jakarta bisa seperti itu? Menurut cerita guide city tour yang kami coba, masalah di Jakarta juga dialami oleh Singapore di tahun 70-an, namun mereka berubah dan menjadi tertata demikian rapi.
Ada satu lagi, jika di Jakarta sungai merupakan momok, di Singapore sungai menjadi tempat wisata yang sangat menakjubkan. Hidup lebih dari 30 tahun di Jakarta, belum pernah sekalipun naik perahu sungai, karena memang tidak ada layanan naik perahu kecuali pilot project yang gagal beberapa tahun lalu.
Memang butuh kemauan dan aturan yang tegas untuk berubah, kalo tidak, ya gak akan bisa sampai kapan pun.
Keluar dari bandara kita langsung menggunakan MRT. Karena kebanyakan yang ikutan belum pernah atau sudah lama sekali tidak ke Singapore, maka kami harus membeli starter pack tiket EZ-Link di MRT changi dengan harga $15 untuk adult dan $5 untuk anak kecil. Harga untuk adult termasuk biaya kartu $5, sehingga net value yang ada di kartu adalah $10. Namun untuk anak kecil harga tersebut sudah termasuk net value. Kebetulan saya dan istri meminjam EZ-Link dari kakak ipar, sehingga kami pun tidak perlu mengeluarkan $5 biaya kartu, tinggal top up value kartu tersebut.
Kartu yang telah dibeli dibagikan ke masing-masing orang dan ditempelkan ke sensor kartu pintu masuk peron MRT changi untuk membuka locknya. Yang anak-anak dibantu oleh orang tuanya dalam menempelkan ke sensor. Namun selanjutnya anak-anak diajari cara menempelkan ke sensor sehingga mereka memiliki pengalaman tersendiri.
Kereta datang ke peron kira-kira 5 menit setelah kami on-board. Di sana ada tulisan berapa menit lagi keretanya akan datang, dan itu sesuai dengan apa yang ditulis. Inilah yang sangat membedakan antara Singapore dengan Jakarta. Disini pengguna transportasi umum mendapatkan kepastian waktu kedatangan, andaikata terlambat pun paling hanya beberapa menit dari yang seharusnya. Di Jakarta kita tidak tahu sama sekali kapan angkutan umum akan datang. Kadang dua angkutan sekaligus, kadang tidak ada sama sekali dalam dua jam menunggu.
Suasana di dalam kereta seperti yang tergambarkan dalam filem holywood atau filem jepang. Di situ ada tempat duduk yang tulisannya 'reserved', yaitu direserved untuk orang tua, ibu hamil dan orang cacat. Beberapa kali saya lihat sendiri orang disitu memberikan tempat duduknya kepada beberapa kategori yang saya sebutkan sebelumnya. Hal ini juga saya banyak jumpai di Jakarta, walaupun agak jarang karena penuh-sesaknya bus atau kereta sehingga lelaki yang masih kuat sekalipun harus tertidur ketika di perjalanan.
Yang menarik dari sistem transportasi di Singapore adalah korelasi antara satu angkutan dengan lainnya. Ketika merasakan perjalanan dengan MRT, kita dua kali harus pindah kereta atau dengan kata lain pindah jalur. Hal ini mirip seperti Busway di Jakarta yang bisa pindah jalur busway di halte transfer. Penumpang disini dipaksa bergerak cepat dalam pindah jalur karena kereta dari jalur lain akan datang tepat ketika dia sampai di peron untuk jalur berikutnya. Jika berjalan lambat, maka dia akan ketinggalan kereta dan harus menunggu hingga 15 menit. Hal yang sama juga saya rasakan terhadap jadwal bus. Jika ingin transfer bus, maka harus berjalan cepat ketika ingin mengejar bus yang akan kita naiki berikutnya. Terlambat berjalan, maka bus sudah keburu pergi. Makanya saya rasakan orang berjalan di Singapore memiliki kecepatan yang lebih baik daripada di Jakarta karena memang mereka tahu bahwa mereka harus cepat jika tidak ingin ketinggalan karena ada kepastian jadwal. Bandingkan dengan Jakarta, ketika kita pindah jalur busway maka 99% kita akan mengalami penumpukan penumpang. Lagi-lagi karena tidak ada kepastian jadwal.
Informasi angkutan umum seperti bus dan MRT sangat mudah didapatkan baik dari terminal yang bersangkutan hingga dari internet. Jadwal MRT dan bus dapat dilihat dengan seksama di website yang bersangkutan, bahkan untuk bus ada semacam journey planner, dimana website tersebut menjawab pertanyaan kita tentang bus apa yang harus kita naiki jika kita mau pergi dari titik A ke titik B. Itulah sebabnya akses internet sangat dibutuhkan ketika merencanakan perjalanan di Singapore, terutama untuk yang baru pertama kali kesana. Dari lihat informasi di internet tersebut, kadang kita bisa memodifikasi rute kita dalam rangka menghemat waktu tempuh atau menghemat biaya angkutan.
Ada satu pengalaman kami selama di Singapore memodifikasi rute perjalanan. Dari hotel menuju Suntec City Convention Center, jika minta petunjuk dari website maka akan disarankan untuk jalan kaki terlebih dahulu sekitar 300 meter, kemudian naik bus nomor 133 langsung ke Suntec. Biayanya $0,91 untuk adult. Dengan dimodifikasi, kita bisa langsung naik bus nomor 145 dari depan hotel, terus turun di tiga halte berikutnya, lanjut naik nomor 133 ke Suntec. Jalan kakinya dikurangi hingga hampir tidak ada, dan biayanya pun berkurang $0.03 karena adanya transfer rebate.
Setiap ingin melakukan rencana perjalanan, maka kami selalu bertanya kepada website tersebut tentang bus dan halte, sehingga setiap perjalanan serasa terencana dan biayanya dapat diukur. Namun ada satu kejadian dimana kami benar-benar berhenti di luar rencana, sehingga terpaksa saya memutar otak untuk mengembalikan kita kembali ke hotel. Untung saja salah satu dari bus tersebut melewati jalan yang tadi sempat dilewati, sehingga langsung saja kita milih bus tersebut walaupun tidak tahu sedang berada dimana. Saya rasa jika bertanya kepada orang Singapore sekalipun tidak akan banyak membantu masalah bus ini, karena sepertinya mereka juga tidak terlalu hapal dengan bus yang bukan menjadi kebiasaannya.
MRT hanya digunakan pas pertama kali datang karena jalan menuju peron dan transfer ke jalur yang lain butuh jalan kaki yang cukup jauh, padahal di rombongan ada ibu yang di atas 50-an dan anak balita. Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada korelasi antar jalur dengan kecepatan jalan. Jika kecepatan jalan kurang, maka setiap kali ganti jalur kita akan kehilangan sampai 15 menit hanya untuk menunggu kereta berikutnya. Lagipula rencana perjalan kita tidak mengharuskan untuk mengambil MRT sebagai moda transportasi.
Dengan sistem transportasi yang sudah tertata baik seperti itu, jarang sekali kami menemukan kemacetan di sana, bahkan ketika di Suntec City Convention Center sedang ada pameran IT Show. Sebagai gantinya, pameran tersebut disesaki banyak orang, seperti ingin menonton konser artis luar negri karena untuk jalan saja susah sekali.
Kapan ya Jakarta bisa seperti itu? Menurut cerita guide city tour yang kami coba, masalah di Jakarta juga dialami oleh Singapore di tahun 70-an, namun mereka berubah dan menjadi tertata demikian rapi.
Ada satu lagi, jika di Jakarta sungai merupakan momok, di Singapore sungai menjadi tempat wisata yang sangat menakjubkan. Hidup lebih dari 30 tahun di Jakarta, belum pernah sekalipun naik perahu sungai, karena memang tidak ada layanan naik perahu kecuali pilot project yang gagal beberapa tahun lalu.
Memang butuh kemauan dan aturan yang tegas untuk berubah, kalo tidak, ya gak akan bisa sampai kapan pun.
Label:
Berkeluarga
Family Trip to Singapore (4th - Hotel)
Sebelum berada di Singapore tentunya kita harus mempersiapkan penginapan kita. Hal ini selain mengurangi kebingungan ketika sampai juga mempermudah kita melewati imigrasi di Singapore karena ada isian tentang penginapan di Singapore.
Memilih penginapan memiliki seni tersendiri karena kami inginnya yang harganya paling murah tapi yang juga enak. Memilih salah satu hotel berbintang di Singapore sangat mudah, tapi biayanya juga sangat mahal. Oleh karena itu kami melihat-lihat penawaran terbaik dari berbagai penyedia penginapan.
Berlibur dengan 10 orang sekaligus membuat biaya bisa dihemat atau bisa juga semakin membengkak, oleh karena itu booking hotel sebelum hari-H sangat direkomendasikan sehingga biaya dapat dikontrol. Berbagai penawaran kami dapatkan namun akhirnya pilihan jatuh ke THE HIVE BACKPACKER HOSTEL.

Rate untuk hotel tersebut cukup terjangkau. Dengan menyewa kapasitas 9 orang (karena 3 orang dari kami adalah balita), maka seluruh biaya per hari adalah $200. Booking dilakukan sebulan sebelum keberangkatan tanpa uang muka sekalipun. Kamar yang kami sewa adalah dua double bed (satu agak besar dan satu lagi agak kecil), dan lima bunk bed. Kebetulan ketiga kamar tersebut berada di lantai yang sama dan secara tidak langsung kita menyewa seluruh kamar untuk lantai tersebut.

Menuju hotel tersebut ada beberapa cara, namun cara yang kami tempuh dari bandara adalah dengan MRT. Butuh lebih dari satu jam perjalanan (termasuk jalan kakinya) untuk mencapai hotel. Nyampe, langsung teler.....dan anak kecil pun belum makan siang, sehingga harus secepatnya mencari tempat makan terdekat (jalan kaki kira-kira 300 m) untuk pesan makanan.
Kesan pertama ketika menginjakkan kaki ke hotel adalah sederhana dan bersih. Sesuai yang disebutkan di atas, kami menyewa seluruh kamar di lantai dasar dan tidak ada akses langsung dari lantai dasar ke lantai di atasnya. Jadi kami seperti menyewa sebuah rumah di daerah Singapore, dengan ukuran yang cukup besar dan per harinya hanya $200.

Fasilitas yang didapat mungkin dapat dilihat pada website hostel tersebut, tinggal masuk google dan tulis nama hotelnya. Apa yang ditulis disitu bisa dibilang 99% akurat, hanya di lounge room air conditioner dinyalakan mulai pukul 6 sore hingga pukul 1 malam dan di bunk bed room air conditioner dinyalakan mulai pukul 6 sore hingga pukul 12 siang di keesokan harinya.
Staff yang ada disitu juga ramah dan sangat membantu jika kita mempunyai pertanyaan. Tempatnya saya sangat rekomendasikan untuk tur kelompok dengan jumlah 9 orang, atau 10 orang jika ada anak kecil (mereka memperbolehkan satu orang extra karena kebetulan di kelompok ada tiga anak kecil dan saat penawaran awalnya, dia menawarkan enam bunk bed, padahal cuma ada lima).
Internetnya....Wow!!! mantap sekali. Lebih cepat dari First Media yang ada di rumah sepertinya. Gratis lagi!!! O ya internet sangat berguna di sini karena untuk pergi kemana-mana kita harus tanya ke internet mengenai jalur bisnya. Bahkan dari situ kita dapat memodifikasi jalur tersendiri. Lebih lanjut akan dibahas pada edisi transportasi.
All and all, kami puas tinggal di THE HIVE BACKPACKER, walaupun kata staffnya ada komplain dari tamu lain karena kita buang sampah bekas makanan di tong sampah dalam dan itu menyebabkan bau tidak sedap ketika tamu lain datang ke lounge kami dan menggunakan internet atau menonton TV.
Kok bisa ada tamu lain? Karena di bagian depan dari tempat tersebut adalah tempat umum yang digunakan untuk nonton TV dan internet. Dan itu bisa digunakan oleh siapa saja yang menginap di The Hive. Jadi kita tidak 100% menguasai tempat tersebut, tapi hanya seakan-akan menguasai tempat tersebut.
Memilih penginapan memiliki seni tersendiri karena kami inginnya yang harganya paling murah tapi yang juga enak. Memilih salah satu hotel berbintang di Singapore sangat mudah, tapi biayanya juga sangat mahal. Oleh karena itu kami melihat-lihat penawaran terbaik dari berbagai penyedia penginapan.
Berlibur dengan 10 orang sekaligus membuat biaya bisa dihemat atau bisa juga semakin membengkak, oleh karena itu booking hotel sebelum hari-H sangat direkomendasikan sehingga biaya dapat dikontrol. Berbagai penawaran kami dapatkan namun akhirnya pilihan jatuh ke THE HIVE BACKPACKER HOSTEL.
Rate untuk hotel tersebut cukup terjangkau. Dengan menyewa kapasitas 9 orang (karena 3 orang dari kami adalah balita), maka seluruh biaya per hari adalah $200. Booking dilakukan sebulan sebelum keberangkatan tanpa uang muka sekalipun. Kamar yang kami sewa adalah dua double bed (satu agak besar dan satu lagi agak kecil), dan lima bunk bed. Kebetulan ketiga kamar tersebut berada di lantai yang sama dan secara tidak langsung kita menyewa seluruh kamar untuk lantai tersebut.
Menuju hotel tersebut ada beberapa cara, namun cara yang kami tempuh dari bandara adalah dengan MRT. Butuh lebih dari satu jam perjalanan (termasuk jalan kakinya) untuk mencapai hotel. Nyampe, langsung teler.....dan anak kecil pun belum makan siang, sehingga harus secepatnya mencari tempat makan terdekat (jalan kaki kira-kira 300 m) untuk pesan makanan.
Kesan pertama ketika menginjakkan kaki ke hotel adalah sederhana dan bersih. Sesuai yang disebutkan di atas, kami menyewa seluruh kamar di lantai dasar dan tidak ada akses langsung dari lantai dasar ke lantai di atasnya. Jadi kami seperti menyewa sebuah rumah di daerah Singapore, dengan ukuran yang cukup besar dan per harinya hanya $200.
Fasilitas yang didapat mungkin dapat dilihat pada website hostel tersebut, tinggal masuk google dan tulis nama hotelnya. Apa yang ditulis disitu bisa dibilang 99% akurat, hanya di lounge room air conditioner dinyalakan mulai pukul 6 sore hingga pukul 1 malam dan di bunk bed room air conditioner dinyalakan mulai pukul 6 sore hingga pukul 12 siang di keesokan harinya.
Staff yang ada disitu juga ramah dan sangat membantu jika kita mempunyai pertanyaan. Tempatnya saya sangat rekomendasikan untuk tur kelompok dengan jumlah 9 orang, atau 10 orang jika ada anak kecil (mereka memperbolehkan satu orang extra karena kebetulan di kelompok ada tiga anak kecil dan saat penawaran awalnya, dia menawarkan enam bunk bed, padahal cuma ada lima).
Internetnya....Wow!!! mantap sekali. Lebih cepat dari First Media yang ada di rumah sepertinya. Gratis lagi!!! O ya internet sangat berguna di sini karena untuk pergi kemana-mana kita harus tanya ke internet mengenai jalur bisnya. Bahkan dari situ kita dapat memodifikasi jalur tersendiri. Lebih lanjut akan dibahas pada edisi transportasi.
All and all, kami puas tinggal di THE HIVE BACKPACKER, walaupun kata staffnya ada komplain dari tamu lain karena kita buang sampah bekas makanan di tong sampah dalam dan itu menyebabkan bau tidak sedap ketika tamu lain datang ke lounge kami dan menggunakan internet atau menonton TV.
Kok bisa ada tamu lain? Karena di bagian depan dari tempat tersebut adalah tempat umum yang digunakan untuk nonton TV dan internet. Dan itu bisa digunakan oleh siapa saja yang menginap di The Hive. Jadi kita tidak 100% menguasai tempat tersebut, tapi hanya seakan-akan menguasai tempat tersebut.
Label:
Berkeluarga
Sabtu, Maret 13, 2010
Family Trip to Singapore (3rd - Airport)
Tanggal 11 Maret 2010
Hari-H keberangkatan ke Singapore. Hari ini jelas cuti karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 11.20. Dari jam 7 pagi sudah berangkat dari rumah diantar oleh mertua ke Blok-M karena mau naik DAMRI ke bandara.
Sampai di Blok-M pukul 8 kurang 10 menit, kebetulan jalanan tidak terlalu macet, dan kita tidak berangkat pas pada pukul 7, melainkan hampir 7.30. Jam 9 kurang sedikit sudah sampai di terminal 2D bandara Soekarno-Hatta. Keluarga yang lain belum sampai karena terjebak macet di tol Tanjung Priok yang menuju bandara. Mereka semua baru sampai sekitar pukul 10 pagi.
Saya dan istri sempat merasakan executive lounge karena istri punya kartu kredit yang bisa buat masuk lounge tertentu. Lumayan, isi perut dulu, karena kemungkinan baru makan lagi dekat-dekat magrib, mengingat menurut jadwal kita akan landing pukul 2 siang, dan mungkin membutuhkan setengah sampai satu jam untuk putar-putar di Bandara Changi, termasuk imigrasi, ambil bagasi dan bingung-bingung disana.
Pukul 10.40 kita sudah dipanggil untuk boarding, dan pas pukul 11.20 pesawat sudah mulai taxi (jalan) menuju runway. Istri saya sempat berujar, "Gile, udah gratis tepat waktu pula". Emang mantap airasia untuk masalah ketepatan waktu. Bahkan di dalam kabin dikasih snack dan minum pula. Mengejutkan!! Saya sempat bertanya apakah snack dan minum ini gratis atau bayar, hehehehe.
Pukul 14 lewat sedikit waktu Singapore, pesawat mendarat sempurna di Bandara Changi. Dari atas saja sudah kelihatan besarnya bandara negara Singapore ini, runwaynya ada banyak banget, hal yang jarang ditemui di Indonesia, apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi saya keluar negeri, dan akhirnya paspor saya yang sudah perpanjang satu kali semenjak buat, punya cap di lembarannya.

Hal pertama yang dilakukan setelah sampai di bandara Changi adalah mencari toilet. Toilet disini mirip seperti toilet-toilet yang ada di senayan city atau hotel bintang lima dimana tidak ada pencetan untuk flush pispot. Terpaksa deh melakukan 'atraksi' untuk mensucikan diri kembali.
Lalu lanjut dengan menukar uang. Kebetulan kakakku uang singapore dollarnya ketinggalan di rumah pas berangkat paginya. Nilai tukarnya lebih mahal daripada di Indonesia, tapi masih cukup moderat (mungkin memang rate-nya udah berubah kali ya...). Pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah, persiapan yang benar, kalo perlu buat cek list barang-barang apa saja yang dibawa.
Trus kita menuju imigrasi, cukup menunjukkan paspor dan isian formulir yang didapat di pesawat. Tanpa tanya-tanya, mereka langsung mengesahkan kedatangan kita. Hore!!! sudah resmi masuk Singapore.

Setelah imigrasi, ada brosur-brosur dan peta singapore. Brosur dan peta dibagi dalam berbagai macam bagian, makanan, belanja, wisata, dan lain-lain. Mungkin karena banyaknya orang yang ke Singapore sehingga pemerintahnya membuat brosur semacam itu. Brosur ini gratis, dan bisa diambil sebanyak mungkin. Namun peta yang ada di brosur adalah peta tengah kota, bahkan lokasi hotel tempat kita nginap tidak ada di peta tersebut.
Lewat imigrasi kita pergi untuk ambil bagasi. Disitu ada ban berjalan yang sedang berhenti dan bagasi kita yang berjumlah 4 buah hanya terlihat 2 buah. Selidik punya selidik, rupanya ban berjalannya sedang rusak, sehingga tas-tas banyak yang tersendat di perjalanan. Cukup lama kami menunggu, mungkin sekitar 1/2 jam sampai ban tersebut berjalan kembali. Barulah petualangan kita di sepanjang Changi Airport dimulai.
Pertama-tama, kita pengennya naik MRT, bertanya ke petugas rupanya kita harus naik tangga dahulu. Tangganya eskalator kok, jadi gak berat. Asal pake bagasi yang beroda saya rasa tak perlu pake taksi untuk ke tempat tujuan. Sampai di atas, sempat bingung akan adanya Skytrain. Apakah ini gratis atau bayar? Akhirnya lihat-lihat orang sekitar, dan juga bertanya kepada cleaning service di situ, saya mendapatkan kesimpulan Skytrainnya GRATIS!!! Wow, mantap sekali.

Skytrain membawa kita ke T2 (kayanya sih kepanjangan dari Terminal 2), dimana MRT berada. Untuk menuju MRT kita harus turun tangga (eskalator) cukup banyak karena peronnya terletak di bawah tanah. Kita beli Tiket EZ-Link dahulu, untuk starter pack dewasa harganya $15 dengan isi $10 dan top-up minimum $10. Anak kecil starter packnya $5 isi yang sama dan top-up minimum $5.
Abis itu masuk ke tempat tunggu MRT dengan menempelkan kartu EZ-Link ke counter masuknya. Hebat, bayar kendaraan umumnya pake kartu...

14 Maret 2010
Hari terakhir di Singapore, malam ini sudah berada di Jakarta kembali. Check out dari hotel pukul 11 paling telat dan baru berangkat dari Changi pukul 17.45. Ngapain aja ya 6 jam? Inilah ceritanya...
Kita check out pada pukul 10.30 dan akhirnya menggunakan taksi untuk ke bandara karena permintaan dari kebanyakan anggota keluarga. Tadinya sih mau ke IKEA dulu, tapi inget-inget yang kemarin-kemarin kok rasanya gak mungkin ya di IKEA cuma satu sampai dua jam, bisa-bisa nanti kebirit-birit ngejar jadwal pesawat. Akhirnya kita memutuskan langsung ke Changi, terus dari Changi mau ngelayap dipersilahkan.
Perjalanan menggunakan taksi ke Changi sangat cepat, tidak sampai 1/2 jam. Biayanya pun cuma $15 per taksi. Kita menggunakan dua taksi karena jumlahnya 10 orang. Sampai di terminal 1 Bandara Changi pukul 11 dan langsung masuk ke lantai keberangkatan.
Terbayang terkatung-katung di bandara tidak dialami di Changi. Kenapa? Pertama, kita ada 10 orang, jadi paling tidak ada yang bisa diajak ngomong. Kedua, ada fasilitas wifi gratis, tinggal menunjukkan paspor untuk diregistrasi. GRATIS!!! Ketiga, ada restoran untuk makan siang. Semacam food court di mall. Keempat, ada skytrain (kereta listrik) untuk jalan-jalan ke terminal lain di Changi. GRATIS !!! Kelima, habis check in, keadaan di ruangan setelah imigrasi sangat-sangat menyerupai mall. Starbuck dan Gucci buka outlet disana. Ada pula fasilitas pijit gratis dari OSIM. Pokoknya di Bandara Changi kita gak akan mati kebosanan karena fasilitas yang begitu melimpah.
Urusan imigrasi pun juga tidak sulit. Hampir sama ketika baru datang. Hanya ditanya nama saja, dicocokkan dengan foto di paspor, langsung dicap!!
Uniknya, di bandara dengan kelas internasional, toiletnya memiliki toilet jongkok!!! Yap. Ada satu outlet toilet yang menggunakan aksi jongkok. Satu-satunya yang memiliki semprotan air untuk cebok. Selebihnya hanya tissue, tissue dan tissue.
17.15 sudah waktunya boarding dan kita naik pesawat pada waktunya. 18.30 WIB kita sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, dan keteraturan yang selama ini dilihat di depan mata, tiba-tiba hilang dan berubah ke keadaan sedia kala....
Jakarta.....oh...Jakarta!!
Hari-H keberangkatan ke Singapore. Hari ini jelas cuti karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 11.20. Dari jam 7 pagi sudah berangkat dari rumah diantar oleh mertua ke Blok-M karena mau naik DAMRI ke bandara.
Sampai di Blok-M pukul 8 kurang 10 menit, kebetulan jalanan tidak terlalu macet, dan kita tidak berangkat pas pada pukul 7, melainkan hampir 7.30. Jam 9 kurang sedikit sudah sampai di terminal 2D bandara Soekarno-Hatta. Keluarga yang lain belum sampai karena terjebak macet di tol Tanjung Priok yang menuju bandara. Mereka semua baru sampai sekitar pukul 10 pagi.
Saya dan istri sempat merasakan executive lounge karena istri punya kartu kredit yang bisa buat masuk lounge tertentu. Lumayan, isi perut dulu, karena kemungkinan baru makan lagi dekat-dekat magrib, mengingat menurut jadwal kita akan landing pukul 2 siang, dan mungkin membutuhkan setengah sampai satu jam untuk putar-putar di Bandara Changi, termasuk imigrasi, ambil bagasi dan bingung-bingung disana.
Pukul 10.40 kita sudah dipanggil untuk boarding, dan pas pukul 11.20 pesawat sudah mulai taxi (jalan) menuju runway. Istri saya sempat berujar, "Gile, udah gratis tepat waktu pula". Emang mantap airasia untuk masalah ketepatan waktu. Bahkan di dalam kabin dikasih snack dan minum pula. Mengejutkan!! Saya sempat bertanya apakah snack dan minum ini gratis atau bayar, hehehehe.
Pukul 14 lewat sedikit waktu Singapore, pesawat mendarat sempurna di Bandara Changi. Dari atas saja sudah kelihatan besarnya bandara negara Singapore ini, runwaynya ada banyak banget, hal yang jarang ditemui di Indonesia, apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi saya keluar negeri, dan akhirnya paspor saya yang sudah perpanjang satu kali semenjak buat, punya cap di lembarannya.
Hal pertama yang dilakukan setelah sampai di bandara Changi adalah mencari toilet. Toilet disini mirip seperti toilet-toilet yang ada di senayan city atau hotel bintang lima dimana tidak ada pencetan untuk flush pispot. Terpaksa deh melakukan 'atraksi' untuk mensucikan diri kembali.
Lalu lanjut dengan menukar uang. Kebetulan kakakku uang singapore dollarnya ketinggalan di rumah pas berangkat paginya. Nilai tukarnya lebih mahal daripada di Indonesia, tapi masih cukup moderat (mungkin memang rate-nya udah berubah kali ya...). Pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah, persiapan yang benar, kalo perlu buat cek list barang-barang apa saja yang dibawa.
Trus kita menuju imigrasi, cukup menunjukkan paspor dan isian formulir yang didapat di pesawat. Tanpa tanya-tanya, mereka langsung mengesahkan kedatangan kita. Hore!!! sudah resmi masuk Singapore.
Setelah imigrasi, ada brosur-brosur dan peta singapore. Brosur dan peta dibagi dalam berbagai macam bagian, makanan, belanja, wisata, dan lain-lain. Mungkin karena banyaknya orang yang ke Singapore sehingga pemerintahnya membuat brosur semacam itu. Brosur ini gratis, dan bisa diambil sebanyak mungkin. Namun peta yang ada di brosur adalah peta tengah kota, bahkan lokasi hotel tempat kita nginap tidak ada di peta tersebut.
Lewat imigrasi kita pergi untuk ambil bagasi. Disitu ada ban berjalan yang sedang berhenti dan bagasi kita yang berjumlah 4 buah hanya terlihat 2 buah. Selidik punya selidik, rupanya ban berjalannya sedang rusak, sehingga tas-tas banyak yang tersendat di perjalanan. Cukup lama kami menunggu, mungkin sekitar 1/2 jam sampai ban tersebut berjalan kembali. Barulah petualangan kita di sepanjang Changi Airport dimulai.
Pertama-tama, kita pengennya naik MRT, bertanya ke petugas rupanya kita harus naik tangga dahulu. Tangganya eskalator kok, jadi gak berat. Asal pake bagasi yang beroda saya rasa tak perlu pake taksi untuk ke tempat tujuan. Sampai di atas, sempat bingung akan adanya Skytrain. Apakah ini gratis atau bayar? Akhirnya lihat-lihat orang sekitar, dan juga bertanya kepada cleaning service di situ, saya mendapatkan kesimpulan Skytrainnya GRATIS!!! Wow, mantap sekali.
Skytrain membawa kita ke T2 (kayanya sih kepanjangan dari Terminal 2), dimana MRT berada. Untuk menuju MRT kita harus turun tangga (eskalator) cukup banyak karena peronnya terletak di bawah tanah. Kita beli Tiket EZ-Link dahulu, untuk starter pack dewasa harganya $15 dengan isi $10 dan top-up minimum $10. Anak kecil starter packnya $5 isi yang sama dan top-up minimum $5.
Abis itu masuk ke tempat tunggu MRT dengan menempelkan kartu EZ-Link ke counter masuknya. Hebat, bayar kendaraan umumnya pake kartu...
14 Maret 2010
Hari terakhir di Singapore, malam ini sudah berada di Jakarta kembali. Check out dari hotel pukul 11 paling telat dan baru berangkat dari Changi pukul 17.45. Ngapain aja ya 6 jam? Inilah ceritanya...
Kita check out pada pukul 10.30 dan akhirnya menggunakan taksi untuk ke bandara karena permintaan dari kebanyakan anggota keluarga. Tadinya sih mau ke IKEA dulu, tapi inget-inget yang kemarin-kemarin kok rasanya gak mungkin ya di IKEA cuma satu sampai dua jam, bisa-bisa nanti kebirit-birit ngejar jadwal pesawat. Akhirnya kita memutuskan langsung ke Changi, terus dari Changi mau ngelayap dipersilahkan.
Perjalanan menggunakan taksi ke Changi sangat cepat, tidak sampai 1/2 jam. Biayanya pun cuma $15 per taksi. Kita menggunakan dua taksi karena jumlahnya 10 orang. Sampai di terminal 1 Bandara Changi pukul 11 dan langsung masuk ke lantai keberangkatan.
Terbayang terkatung-katung di bandara tidak dialami di Changi. Kenapa? Pertama, kita ada 10 orang, jadi paling tidak ada yang bisa diajak ngomong. Kedua, ada fasilitas wifi gratis, tinggal menunjukkan paspor untuk diregistrasi. GRATIS!!! Ketiga, ada restoran untuk makan siang. Semacam food court di mall. Keempat, ada skytrain (kereta listrik) untuk jalan-jalan ke terminal lain di Changi. GRATIS !!! Kelima, habis check in, keadaan di ruangan setelah imigrasi sangat-sangat menyerupai mall. Starbuck dan Gucci buka outlet disana. Ada pula fasilitas pijit gratis dari OSIM. Pokoknya di Bandara Changi kita gak akan mati kebosanan karena fasilitas yang begitu melimpah.
Urusan imigrasi pun juga tidak sulit. Hampir sama ketika baru datang. Hanya ditanya nama saja, dicocokkan dengan foto di paspor, langsung dicap!!
Uniknya, di bandara dengan kelas internasional, toiletnya memiliki toilet jongkok!!! Yap. Ada satu outlet toilet yang menggunakan aksi jongkok. Satu-satunya yang memiliki semprotan air untuk cebok. Selebihnya hanya tissue, tissue dan tissue.
17.15 sudah waktunya boarding dan kita naik pesawat pada waktunya. 18.30 WIB kita sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, dan keteraturan yang selama ini dilihat di depan mata, tiba-tiba hilang dan berubah ke keadaan sedia kala....
Jakarta.....oh...Jakarta!!
Label:
Berkeluarga
Family Trip to Singapore (2nd - Preparation)
Beli tiket Juni 2009, berangkat Maret 2010. Waktu yang sangat lama untuk persiapan, tapi tetap saja sebagai bagian dari orang Indonesia, kami tetap menganut last minute preparation.
Pertama yang dipersiapkan adalah paspor. Saya dan istri sudah punya sejak lama, bahkan sudah mau expired dalam beberapa bulan mendatang. Jadilah kita gak perlu susah-susah bikin paspor lagi.
Kedua adalah NPWP. Sejak Desember 2008 karena tidak mau kena pajak yang lebih besar dan bisa gratis fiskal kalau ke luar negeri, maka kami pun buat NPWP. Hingga saat ini sudah dua kali melaporkan SPT ke kantor pajak.
Ketiga adalah Penginapan. Banyak jenis penginapan di Singapore. Mulai dari yang Backpacker hingga yang berbintang. Untuk perjalanan kali ini kita memilih hotel berjenis Backpacker untuk 10 orang dengan nama THE HIVE BACKPACKERS. Review mengenai hotel akan dibahas di edisi lain.
Keempat adalah Uang Kas. Uang memang bukan segalanya, tapi tetap yang paling utama!! Empat hari berada di Singapore tentunya kita harus menyiapkan uang yang cukup besar.
Kelima adalah Jadwal Acara. Untuk trip kali ini, saya dan istri yang membuat rencana perjalanannya. Seperti biasa, acara diajukan mepet ke Hari-H, karena kita banyak mengumpulkan data, seperti dari Internet, Buku dan pengalaman teman-teman yang sudah bolak-balik Singapore.
Keenam adalah Printilan. Maksud printilan disini adalah hal-hal yang juga penting tapi tidak terlalu esensial. Contohnya adalah pinjam kartu telepon dari teman yang masih bersisa, pinjam kartu EZ-Link dari kakak ipar yang masih sisa dan printilan lainnya yang cukup penting yaitu print tiket airasia.
Langsung tinggal tunggu Hari-H, trus cek dan ricek lagi.
Pertama yang dipersiapkan adalah paspor. Saya dan istri sudah punya sejak lama, bahkan sudah mau expired dalam beberapa bulan mendatang. Jadilah kita gak perlu susah-susah bikin paspor lagi.
Kedua adalah NPWP. Sejak Desember 2008 karena tidak mau kena pajak yang lebih besar dan bisa gratis fiskal kalau ke luar negeri, maka kami pun buat NPWP. Hingga saat ini sudah dua kali melaporkan SPT ke kantor pajak.
Ketiga adalah Penginapan. Banyak jenis penginapan di Singapore. Mulai dari yang Backpacker hingga yang berbintang. Untuk perjalanan kali ini kita memilih hotel berjenis Backpacker untuk 10 orang dengan nama THE HIVE BACKPACKERS. Review mengenai hotel akan dibahas di edisi lain.
Keempat adalah Uang Kas. Uang memang bukan segalanya, tapi tetap yang paling utama!! Empat hari berada di Singapore tentunya kita harus menyiapkan uang yang cukup besar.
Kelima adalah Jadwal Acara. Untuk trip kali ini, saya dan istri yang membuat rencana perjalanannya. Seperti biasa, acara diajukan mepet ke Hari-H, karena kita banyak mengumpulkan data, seperti dari Internet, Buku dan pengalaman teman-teman yang sudah bolak-balik Singapore.
Keenam adalah Printilan. Maksud printilan disini adalah hal-hal yang juga penting tapi tidak terlalu esensial. Contohnya adalah pinjam kartu telepon dari teman yang masih bersisa, pinjam kartu EZ-Link dari kakak ipar yang masih sisa dan printilan lainnya yang cukup penting yaitu print tiket airasia.
Langsung tinggal tunggu Hari-H, trus cek dan ricek lagi.
Label:
Berkeluarga
Langganan:
Postingan (Atom)