Sabtu, Maret 13, 2010

Family Trip to Singapore (3rd - Airport)

Tanggal 11 Maret 2010

Hari-H keberangkatan ke Singapore. Hari ini jelas cuti karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 11.20. Dari jam 7 pagi sudah berangkat dari rumah diantar oleh mertua ke Blok-M karena mau naik DAMRI ke bandara.

Sampai di Blok-M pukul 8 kurang 10 menit, kebetulan jalanan tidak terlalu macet, dan kita tidak berangkat pas pada pukul 7, melainkan hampir 7.30. Jam 9 kurang sedikit sudah sampai di terminal 2D bandara Soekarno-Hatta. Keluarga yang lain belum sampai karena terjebak macet di tol Tanjung Priok yang menuju bandara. Mereka semua baru sampai sekitar pukul 10 pagi.

Saya dan istri sempat merasakan executive lounge karena istri punya kartu kredit yang bisa buat masuk lounge tertentu. Lumayan, isi perut dulu, karena kemungkinan baru makan lagi dekat-dekat magrib, mengingat menurut jadwal kita akan landing pukul 2 siang, dan mungkin membutuhkan setengah sampai satu jam untuk putar-putar di Bandara Changi, termasuk imigrasi, ambil bagasi dan bingung-bingung disana.

Pukul 10.40 kita sudah dipanggil untuk boarding, dan pas pukul 11.20 pesawat sudah mulai taxi (jalan) menuju runway. Istri saya sempat berujar, "Gile, udah gratis tepat waktu pula". Emang mantap airasia untuk masalah ketepatan waktu. Bahkan di dalam kabin dikasih snack dan minum pula. Mengejutkan!! Saya sempat bertanya apakah snack dan minum ini gratis atau bayar, hehehehe.

Pukul 14 lewat sedikit waktu Singapore, pesawat mendarat sempurna di Bandara Changi. Dari atas saja sudah kelihatan besarnya bandara negara Singapore ini, runwaynya ada banyak banget, hal yang jarang ditemui di Indonesia, apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi saya keluar negeri, dan akhirnya paspor saya yang sudah perpanjang satu kali semenjak buat, punya cap di lembarannya.



Hal pertama yang dilakukan setelah sampai di bandara Changi adalah mencari toilet. Toilet disini mirip seperti toilet-toilet yang ada di senayan city atau hotel bintang lima dimana tidak ada pencetan untuk flush pispot. Terpaksa deh melakukan 'atraksi' untuk mensucikan diri kembali.

Lalu lanjut dengan menukar uang. Kebetulan kakakku uang singapore dollarnya ketinggalan di rumah pas berangkat paginya. Nilai tukarnya lebih mahal daripada di Indonesia, tapi masih cukup moderat (mungkin memang rate-nya udah berubah kali ya...). Pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah, persiapan yang benar, kalo perlu buat cek list barang-barang apa saja yang dibawa.

Trus kita menuju imigrasi, cukup menunjukkan paspor dan isian formulir yang didapat di pesawat. Tanpa tanya-tanya, mereka langsung mengesahkan kedatangan kita. Hore!!! sudah resmi masuk Singapore.



Setelah imigrasi, ada brosur-brosur dan peta singapore. Brosur dan peta dibagi dalam berbagai macam bagian, makanan, belanja, wisata, dan lain-lain. Mungkin karena banyaknya orang yang ke Singapore sehingga pemerintahnya membuat brosur semacam itu. Brosur ini gratis, dan bisa diambil sebanyak mungkin. Namun peta yang ada di brosur adalah peta tengah kota, bahkan lokasi hotel tempat kita nginap tidak ada di peta tersebut.

Lewat imigrasi kita pergi untuk ambil bagasi. Disitu ada ban berjalan yang sedang berhenti dan bagasi kita yang berjumlah 4 buah hanya terlihat 2 buah. Selidik punya selidik, rupanya ban berjalannya sedang rusak, sehingga tas-tas banyak yang tersendat di perjalanan. Cukup lama kami menunggu, mungkin sekitar 1/2 jam sampai ban tersebut berjalan kembali. Barulah petualangan kita di sepanjang Changi Airport dimulai.

Pertama-tama, kita pengennya naik MRT, bertanya ke petugas rupanya kita harus naik tangga dahulu. Tangganya eskalator kok, jadi gak berat. Asal pake bagasi yang beroda saya rasa tak perlu pake taksi untuk ke tempat tujuan. Sampai di atas, sempat bingung akan adanya Skytrain. Apakah ini gratis atau bayar? Akhirnya lihat-lihat orang sekitar, dan juga bertanya kepada cleaning service di situ, saya mendapatkan kesimpulan Skytrainnya GRATIS!!! Wow, mantap sekali.



Skytrain membawa kita ke T2 (kayanya sih kepanjangan dari Terminal 2), dimana MRT berada. Untuk menuju MRT kita harus turun tangga (eskalator) cukup banyak karena peronnya terletak di bawah tanah. Kita beli Tiket EZ-Link dahulu, untuk starter pack dewasa harganya $15 dengan isi $10 dan top-up minimum $10. Anak kecil starter packnya $5 isi yang sama dan top-up minimum $5.

Abis itu masuk ke tempat tunggu MRT dengan menempelkan kartu EZ-Link ke counter masuknya. Hebat, bayar kendaraan umumnya pake kartu...



14 Maret 2010

Hari terakhir di Singapore, malam ini sudah berada di Jakarta kembali. Check out dari hotel pukul 11 paling telat dan baru berangkat dari Changi pukul 17.45. Ngapain aja ya 6 jam? Inilah ceritanya...

Kita check out pada pukul 10.30 dan akhirnya menggunakan taksi untuk ke bandara karena permintaan dari kebanyakan anggota keluarga. Tadinya sih mau ke IKEA dulu, tapi inget-inget yang kemarin-kemarin kok rasanya gak mungkin ya di IKEA cuma satu sampai dua jam, bisa-bisa nanti kebirit-birit ngejar jadwal pesawat. Akhirnya kita memutuskan langsung ke Changi, terus dari Changi mau ngelayap dipersilahkan.

Perjalanan menggunakan taksi ke Changi sangat cepat, tidak sampai 1/2 jam. Biayanya pun cuma $15 per taksi. Kita menggunakan dua taksi karena jumlahnya 10 orang. Sampai di terminal 1 Bandara Changi pukul 11 dan langsung masuk ke lantai keberangkatan.

Terbayang terkatung-katung di bandara tidak dialami di Changi. Kenapa? Pertama, kita ada 10 orang, jadi paling tidak ada yang bisa diajak ngomong. Kedua, ada fasilitas wifi gratis, tinggal menunjukkan paspor untuk diregistrasi. GRATIS!!! Ketiga, ada restoran untuk makan siang. Semacam food court di mall. Keempat, ada skytrain (kereta listrik) untuk jalan-jalan ke terminal lain di Changi. GRATIS !!! Kelima, habis check in, keadaan di ruangan setelah imigrasi sangat-sangat menyerupai mall. Starbuck dan Gucci buka outlet disana. Ada pula fasilitas pijit gratis dari OSIM. Pokoknya di Bandara Changi kita gak akan mati kebosanan karena fasilitas yang begitu melimpah.

Urusan imigrasi pun juga tidak sulit. Hampir sama ketika baru datang. Hanya ditanya nama saja, dicocokkan dengan foto di paspor, langsung dicap!!

Uniknya, di bandara dengan kelas internasional, toiletnya memiliki toilet jongkok!!! Yap. Ada satu outlet toilet yang menggunakan aksi jongkok. Satu-satunya yang memiliki semprotan air untuk cebok. Selebihnya hanya tissue, tissue dan tissue.

17.15 sudah waktunya boarding dan kita naik pesawat pada waktunya. 18.30 WIB kita sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, dan keteraturan yang selama ini dilihat di depan mata, tiba-tiba hilang dan berubah ke keadaan sedia kala....

Jakarta.....oh...Jakarta!!

Family Trip to Singapore (2nd - Preparation)

Beli tiket Juni 2009, berangkat Maret 2010. Waktu yang sangat lama untuk persiapan, tapi tetap saja sebagai bagian dari orang Indonesia, kami tetap menganut last minute preparation.

Pertama yang dipersiapkan adalah paspor. Saya dan istri sudah punya sejak lama, bahkan sudah mau expired dalam beberapa bulan mendatang. Jadilah kita gak perlu susah-susah bikin paspor lagi.

Kedua adalah NPWP. Sejak Desember 2008 karena tidak mau kena pajak yang lebih besar dan bisa gratis fiskal kalau ke luar negeri, maka kami pun buat NPWP. Hingga saat ini sudah dua kali melaporkan SPT ke kantor pajak.

Ketiga adalah Penginapan. Banyak jenis penginapan di Singapore. Mulai dari yang Backpacker hingga yang berbintang. Untuk perjalanan kali ini kita memilih hotel berjenis Backpacker untuk 10 orang dengan nama THE HIVE BACKPACKERS. Review mengenai hotel akan dibahas di edisi lain.

Keempat adalah Uang Kas. Uang memang bukan segalanya, tapi tetap yang paling utama!! Empat hari berada di Singapore tentunya kita harus menyiapkan uang yang cukup besar.

Kelima adalah Jadwal Acara. Untuk trip kali ini, saya dan istri yang membuat rencana perjalanannya. Seperti biasa, acara diajukan mepet ke Hari-H, karena kita banyak mengumpulkan data, seperti dari Internet, Buku dan pengalaman teman-teman yang sudah bolak-balik Singapore.

Keenam adalah Printilan. Maksud printilan disini adalah hal-hal yang juga penting tapi tidak terlalu esensial. Contohnya adalah pinjam kartu telepon dari teman yang masih bersisa, pinjam kartu EZ-Link dari kakak ipar yang masih sisa dan printilan lainnya yang cukup penting yaitu print tiket airasia.

Langsung tinggal tunggu Hari-H, trus cek dan ricek lagi.

Family Trip to Singapore (1st - Booking Tickets)

Juni 2009 lalu kebetulan saya melihat sebuah iklan airasia di kompas mengenai biaya terbang Jakarta-Singapura yang di iklan adalah Rp 0 (nol rupiah). Di iklan itu disebut nilai tersebut adalah nilai uang yang dibayar, diluar pajak bandara. Benar-benar iklan yang menarik, tapi tentu saja waktunya tidak lama, kalau saya tidak salah waktunya hanya 3 hari dan jadwal penerbangannya pun jauh sekali, hingga April 2010.

Langsung saya informasikan ke seluruh keluarga, yaitu adik, kakak dan ibu. Semuanya mengatakan setuju dan kami langsung memesan tiket yang dikehendaki sebelum waktu promo berakhir. Tanggal yang berhasil kami booking adalah tanggal 11 Maret 2010 untuk JKT-SIN dan 14 Maret 2010 untuk SIN-JKT. Sesuai dengan iklannya, memang biayanya nol rupiah untuk bolak-balik, hanya perlu bayar pajak bandara Changi di Singapura yang saat itu besarnya Rp 220.000 (dua ratus dua puluh ribu rupiah) per orang.

Inilah awal dari family trip kita ke Singapore.

Sabtu, Maret 06, 2010

Biggest Loser Couple

Tertarik dengan acara biggest loser di tv kabel, maka saya dan istri langsung termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Pesertanya cuma dua, saya dan istri, dan inilah perjanjian yang kami tanda tangani:

Sampai hari ulang tahun perkawinan yang ke-3, yang berhasil menurunkan berat badan (dalam persentase) paling besar, berhak mendapatkan hadiah yang diinginkan dari pihak yang kalah, maksimal 10 juta rupiah.

peserta 1 peserta 2
ttd ttd
suami istri

Keterangan:
Penimbangan pertama dilakukan pada tanggal 6 Maret 2010 pukul 06.00.
Penimbangan terakhir dilakukan pada tanggal 17 Juni 2010 pukul 05.30.


Tadi pagi telah dilakukan penimbangan dan hasilnya
Suami : 86 kg
Istri : 51 kg

Yuk kita dukung acara biggest loser couple ini....

Anggota DPR dan Juri Vote Lock

Beberapa hari lalu sudah digelar sidang paripurna DPR dan menghasilkan putusan mengenai kasus Century dengan sistem voting karena tidak mampu menghasilkan putusan yang mufakat. Putusan ini memang terasa demokratis, karena memang voting dibenarkan untuk dilakukan. Namun yang jadi permasalahan adalah voting yang berlangsung sangat tradisional --kalau tidak mau dibilang kuno-- dengan masing-masing anggota berdiri --menggantikan tunjuk tangan-- dan dihitung secara manual oleh petugas sekretariat DPR.

Miris memang, gedung DPR yang dibuat dengan biaya sangat besar, bahkan beberapa bulan lalu kita dihebohkan oleh pembelian komputer all-in-one merek Dell untuk tiap anggota DPR yang satu buahnya beharga belasan juta rupiah. Tapi untuk membuat suatu keputusan penting, dilakukan dengan voting tradisional, seperti jaman saya masih sekolah di Sekolah Dasar dahulu ketika kita ditanya oleh Bu Guru mengenai setuju tidaknya kita mengenai ide yang dikemukakan di kelas.

Berbeda dengan acara di salah satu stasiun tivi yang sedang populer saat ini. Untuk menentukan pemenang acara digunakan 100 juri vote lock yang independent dan masing-masing berhak memilih ya atau tidak di pilihannya. Jika juri tersebut memilih ya, maka akan dihitung sebagai satu suara, dan jika memilih tidak, maka suaranya tidak dihitung sebagai suara yang memilih peserta yang dimaksud. Juri vote lock diberikan waktu 5-10 detik untuk memilih dan hasilnya dapat dilihat pada saat pengumuman pemenang.

Atau ada lagi acara yang juga sudah cukup lama di televisi, biasanya ditayangkan di tivi pada pagi hari. Acara ini menggunakan semacam alat untuk memilih jawaban, apakah A atau B, dan masing-masing peserta hanya diberikan waktu 5 detik sebelum jawaban pertanyaan dilock. Di situ secara real time bisa keliatan peserta mana yang menjawab benar dan salah. Hasilnya dapat langsung diketahui setelah semua soal telah ditanyakan dan dibahas oleh pembawa acara. Pemenang pertama hingga kelima langsung ketahuan dalam hitungan beberapa menit, itu juga karena dilama-lamain oleh si pembawa acara.

Dua contoh acara tivi di atas sebenarnya menggambarkan bahwa teknologi untuk voting telah ada dan telah banyak digunakan di beberapa tempat. Jika mau voting tertutup, maka digunakan contoh kasus pertama. Sebaliknya jika mau voting terbuka, digunakan contoh kasus kedua. Hal ini sangat menghemat waktu, tenaga dan juga uang. Sehingga aktifitas perhitungan, penulisan di papan tulis, teriakan-teriakan yang tak perlu bisa dieliminasi. Biarkan komputer yang melakukan hal itu semua, dan peserta hanya perlu melihat hasilnya di layar.

Jadi seharusnya di setiap meja anggota DPR disediakan semacam voting button yang dapat digunakan ketika voting harus dilakukan. Penggunaannya saya rasa sangat mudah, karena juri vote lock pun dapat menggunakannya, apalagi anggota dewan kita yang terhormat. Lihat saja di kedua contoh kasus di atas, jika dilakukan dengan sistem komputerisasi, maka hasil voting dapat langsung diketahui secara real time. Sebagai informasi aja, ketika dulu pernah dilakukan voting untuk memilih presiden dan wakil presiden, dibutuhkan 1 hari penuh untuk melakukan itu semua. Artinya ada pemborosan penggunaan listrik dari cuma perlu 30 menit - 1 jam untuk pembukaan sidang, pandangan fraksi dan pembacaan keputusan serta penutupan sidang menjadi seharian, bahkan sampai pagi hari.

Entah kenapa teknologi semacam ini tidak diaplikasikan ke dalam ruang sidang paripurna DPR, apakah karena jika menggunakan ini anggota tidak bisa terlihat ke-vokal-annya yang sebenarnya hanya membuat muak, karena tiap kali interupsi, yang diucapkan itu-itu saja. Seolah-olah hal itu digunakan untuk mengulur-ulur waktu saja.

Apakah efesiensi dan efektifitas tidak menjadi target bagi anggota dewan? apakah yang penting anggaran yang ada boleh dihabiskan tanpa harus dihemat?

Entahlah, sampai kapan ada yang sadar bahwa voting tradisional semacam itu hanya memboroskan sumber daya negara dan menurut saya itu adalah bagian dari korupsi pengabdian mereka kepada rakyat.

Mudah-mudahan ada perbaikan di masa mendatang...amin