Sabtu, Maret 13, 2010

Family Trip to Singapore (1st - Booking Tickets)

Juni 2009 lalu kebetulan saya melihat sebuah iklan airasia di kompas mengenai biaya terbang Jakarta-Singapura yang di iklan adalah Rp 0 (nol rupiah). Di iklan itu disebut nilai tersebut adalah nilai uang yang dibayar, diluar pajak bandara. Benar-benar iklan yang menarik, tapi tentu saja waktunya tidak lama, kalau saya tidak salah waktunya hanya 3 hari dan jadwal penerbangannya pun jauh sekali, hingga April 2010.

Langsung saya informasikan ke seluruh keluarga, yaitu adik, kakak dan ibu. Semuanya mengatakan setuju dan kami langsung memesan tiket yang dikehendaki sebelum waktu promo berakhir. Tanggal yang berhasil kami booking adalah tanggal 11 Maret 2010 untuk JKT-SIN dan 14 Maret 2010 untuk SIN-JKT. Sesuai dengan iklannya, memang biayanya nol rupiah untuk bolak-balik, hanya perlu bayar pajak bandara Changi di Singapura yang saat itu besarnya Rp 220.000 (dua ratus dua puluh ribu rupiah) per orang.

Inilah awal dari family trip kita ke Singapore.

Sabtu, Maret 06, 2010

Biggest Loser Couple

Tertarik dengan acara biggest loser di tv kabel, maka saya dan istri langsung termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Pesertanya cuma dua, saya dan istri, dan inilah perjanjian yang kami tanda tangani:

Sampai hari ulang tahun perkawinan yang ke-3, yang berhasil menurunkan berat badan (dalam persentase) paling besar, berhak mendapatkan hadiah yang diinginkan dari pihak yang kalah, maksimal 10 juta rupiah.

peserta 1 peserta 2
ttd ttd
suami istri

Keterangan:
Penimbangan pertama dilakukan pada tanggal 6 Maret 2010 pukul 06.00.
Penimbangan terakhir dilakukan pada tanggal 17 Juni 2010 pukul 05.30.


Tadi pagi telah dilakukan penimbangan dan hasilnya
Suami : 86 kg
Istri : 51 kg

Yuk kita dukung acara biggest loser couple ini....

Anggota DPR dan Juri Vote Lock

Beberapa hari lalu sudah digelar sidang paripurna DPR dan menghasilkan putusan mengenai kasus Century dengan sistem voting karena tidak mampu menghasilkan putusan yang mufakat. Putusan ini memang terasa demokratis, karena memang voting dibenarkan untuk dilakukan. Namun yang jadi permasalahan adalah voting yang berlangsung sangat tradisional --kalau tidak mau dibilang kuno-- dengan masing-masing anggota berdiri --menggantikan tunjuk tangan-- dan dihitung secara manual oleh petugas sekretariat DPR.

Miris memang, gedung DPR yang dibuat dengan biaya sangat besar, bahkan beberapa bulan lalu kita dihebohkan oleh pembelian komputer all-in-one merek Dell untuk tiap anggota DPR yang satu buahnya beharga belasan juta rupiah. Tapi untuk membuat suatu keputusan penting, dilakukan dengan voting tradisional, seperti jaman saya masih sekolah di Sekolah Dasar dahulu ketika kita ditanya oleh Bu Guru mengenai setuju tidaknya kita mengenai ide yang dikemukakan di kelas.

Berbeda dengan acara di salah satu stasiun tivi yang sedang populer saat ini. Untuk menentukan pemenang acara digunakan 100 juri vote lock yang independent dan masing-masing berhak memilih ya atau tidak di pilihannya. Jika juri tersebut memilih ya, maka akan dihitung sebagai satu suara, dan jika memilih tidak, maka suaranya tidak dihitung sebagai suara yang memilih peserta yang dimaksud. Juri vote lock diberikan waktu 5-10 detik untuk memilih dan hasilnya dapat dilihat pada saat pengumuman pemenang.

Atau ada lagi acara yang juga sudah cukup lama di televisi, biasanya ditayangkan di tivi pada pagi hari. Acara ini menggunakan semacam alat untuk memilih jawaban, apakah A atau B, dan masing-masing peserta hanya diberikan waktu 5 detik sebelum jawaban pertanyaan dilock. Di situ secara real time bisa keliatan peserta mana yang menjawab benar dan salah. Hasilnya dapat langsung diketahui setelah semua soal telah ditanyakan dan dibahas oleh pembawa acara. Pemenang pertama hingga kelima langsung ketahuan dalam hitungan beberapa menit, itu juga karena dilama-lamain oleh si pembawa acara.

Dua contoh acara tivi di atas sebenarnya menggambarkan bahwa teknologi untuk voting telah ada dan telah banyak digunakan di beberapa tempat. Jika mau voting tertutup, maka digunakan contoh kasus pertama. Sebaliknya jika mau voting terbuka, digunakan contoh kasus kedua. Hal ini sangat menghemat waktu, tenaga dan juga uang. Sehingga aktifitas perhitungan, penulisan di papan tulis, teriakan-teriakan yang tak perlu bisa dieliminasi. Biarkan komputer yang melakukan hal itu semua, dan peserta hanya perlu melihat hasilnya di layar.

Jadi seharusnya di setiap meja anggota DPR disediakan semacam voting button yang dapat digunakan ketika voting harus dilakukan. Penggunaannya saya rasa sangat mudah, karena juri vote lock pun dapat menggunakannya, apalagi anggota dewan kita yang terhormat. Lihat saja di kedua contoh kasus di atas, jika dilakukan dengan sistem komputerisasi, maka hasil voting dapat langsung diketahui secara real time. Sebagai informasi aja, ketika dulu pernah dilakukan voting untuk memilih presiden dan wakil presiden, dibutuhkan 1 hari penuh untuk melakukan itu semua. Artinya ada pemborosan penggunaan listrik dari cuma perlu 30 menit - 1 jam untuk pembukaan sidang, pandangan fraksi dan pembacaan keputusan serta penutupan sidang menjadi seharian, bahkan sampai pagi hari.

Entah kenapa teknologi semacam ini tidak diaplikasikan ke dalam ruang sidang paripurna DPR, apakah karena jika menggunakan ini anggota tidak bisa terlihat ke-vokal-annya yang sebenarnya hanya membuat muak, karena tiap kali interupsi, yang diucapkan itu-itu saja. Seolah-olah hal itu digunakan untuk mengulur-ulur waktu saja.

Apakah efesiensi dan efektifitas tidak menjadi target bagi anggota dewan? apakah yang penting anggaran yang ada boleh dihabiskan tanpa harus dihemat?

Entahlah, sampai kapan ada yang sadar bahwa voting tradisional semacam itu hanya memboroskan sumber daya negara dan menurut saya itu adalah bagian dari korupsi pengabdian mereka kepada rakyat.

Mudah-mudahan ada perbaikan di masa mendatang...amin

Minggu, Februari 14, 2010

Banjir Lagi di Jakarta

Jumat malam 12 Feb 2010 sebelum beranjak ke tempat tidur, saya sempat membaca sms di handphone yang isinya ada kemungkinan banjir pukul 03:00 di daerah jakarta timur seperti kalibata, kampung melayu dan sekitarnya. Langsung saya nyalakan tivi dan lihat running text dari Metro TV dan TV One, dan menemukan berita yang sama seperti dalam sms. Sms itu sendiri berasal dari perusahaan tempat saya bekerja.

Karena daerah tempat tinggal saya tidak ada dalam list tersebut, maka saya bisa tidur dengan tenang, sambil waspada jika daerah saya juga kebagian limpahan air dari bogor tersebut. Dua hari sebelumnya kali dekat rumah yaitu pesanggrahan sedang agak tinggi dan hanya beberapa centimeter dari bibir kalinya. Apakah mungkin peristiwa tahun 2007 lalu terulang kembali?

Sabtu pagi, saya bangun agak kesiangan karena malamnya tidur kemaleman. Tidak terjadi apa-apa paling tidak di tempat tinggal saya. Langsung saya cek tivi untuk melihat prakiraan banjir di daerah yang disebutkan tadi malam, dan ternyata memang kejadian!!! Banjir benar-benar terjadi, malah kabarnya ada sebuah tempat di kampung melayu yang tinggi airnya lebih dari dua meter....wow!!!

Di hari yang sama ketika saya memanaskan mobil dan mengitari kompleks, saya melihat warga kompleks tempat saya tinggal membuang sebuah bingkisan plastik ke dalam kali. Padahal di rumahnya sudah ada tempat sampah, dan kami pun sudah membayar untuk kebersihan tiap bulannya. Dengan kata lain, jika orang tersebut membuang bingkisan plastik tersebut ke tempat sampahnya, maka pasti bingkisan tersebut akan terangkut oleh petugas kebersihan yang sudah dibayar untuk melakukan tugasnya. Kenyataannya masih saja ada orang yang menganggap kali sebagai tempat sampah!! Sayang sekali bahwa dia tidak menyadari akibat perbuatannya bisa merugikan dirinya dan juga orang lain.

Hari itu juga kebetulan siang harinya ada kondangan di daerah salemba. Kampung melayu adalah feeder dari salemba, sehingga saya agak sungkan untuk pergi ke daerah tersebut, apalagi jalur menuju kesana tinggal satu yang mungkin, yaitu melewati pintu air manggarai yang saat saya sampai disana sudah berada di siaga 2 atau beberapa puluh centimeter lagi hingga airnya luber dari pintu air manggarai. Jalur yang lain, yaitu menteng tidak dipilih karena ada penyerangan kantor "Bendera" di jalan diponegoro, jalur yang harus dilewati.

Untungnya kami tidak mengalami kemacetan walaupun sempat ada beberapa titik yang mengalami genangan. Hari itu mungkin tidak banyak orang yang keluar rumah sehingga jalanan pun agak sepi. Tapi memang kami menuju ke pusat banjir, dan tidak banyak pilihan jalan yang bisa dilewati. Pada akhirnya kami berhasil sampai ke tujuan akhir yaitu rumah orang tua saya di daerah ciangsana.

Banjir, lagi-lagi tamu yang satu ini mampir di Jakarta. Mungkin memang bukan yang terbesar seperti tahun 1996, 2002 dan 2007. Tapi banjir ini sudah membuktikan bahwa memang belum ada perbaikan yang signifikan untuk mengatasi banjir di Jakarta. Saya tidak tahu status banjir kanal timur yang kabarnya sudah tembus laut, apakah belum dialiri aliran sungai? kenapa banjir kali ini yang cuma menimpa jalur kali ciliwung tidak dialihkan ke banjir kanal timur? atau memang banjir kanal timur untuk kepentingan yang lain? Maaf, saya sebagai warga Jakarta tidak tahu sama sekali mengenai pengaturan aliran air tersebut.

Jika dilihat siklus banjir besar Jakarta, maka sepertinya siklusnya semakin mengecil. Dari enam tahun, trus ke lima tahun, dan bukan tidak mungkin akan menuju ke empat tahun. Jika itu terjadi, maka banjir besar berikutnya akan terjadi tahun depan!!! Ya, benar, tahun depan, yaitu tahun 2011. Satu tahun lagi dari sekarang. Apakah yang sudah kita lakukan?

Mengharapkan peran pemerintah pusat maupun daerah rasanya tidak terlalu bisa diandalkan. Biarpun katanya sudah ada pengerukan besar tahun lalu di sembilan kali di Jakarta yang tidak pernah dilakukan dalam 30 tahun terakhir, buktinya beberapa hari yang lalu masih juga terjadi banjir. Artinya pengerukan itu belum membuahkan hasil. Perbaikan infrastruktur pun tidak kelihatan, paling tidak saya tidak melihatnya. Bisa dikatakan sia-sia pemerintah kita membuang miliaran rupiah tapi tidak ada hasilnya. Kasihan....

Jadi sudah saatnya kita sendiri sebagai warga Jakarta yang bertindak. Caranya? mulai dari yang paling mudah dulu....MEMBUANG SAMPAH DI TEMPAT SAMPAH!!! Saya tidak bilang membuang sampah di tempatnya, karena memang sampah sudah hampir di semua tempat, jadi kalo bilang di tempatnya berarti kita buang sampah di tempat yang ada sampahnya, dan kali termasuk salah satu di antaranya. Jadi saya jelaskan bahwa membuang sampah harus di tempat sampah. Tempat sampah itu berupa tempat seperti ember yang berada di dalam rumah, di pinggir jalan dan tempat lainnya yang bisa anda temukan. Dengan membuang sampah di tempat sampah, paling tidak kita mengurangi supply sampah yang berada di kali sehingga air di kali tidak lagi tambah tersumbat.

Emang kalo buang sampah di jalan salahnya apa? kan gak buang ke kali? Nah ini nih yang bahaya. Kalo kita buang sampah di jalan sembarangan, maka sampah itu akan selalu berada di jalan sampai ada sesuatu yang memindahkannya. Iya kalo dipindah ama petugas kebersihan pemda yang suka kelihatan di jalanan, kalo aliran air karena hujan yang memindahkannya gimana? air kan mengalir ke tempat yang rendah. Dari jalanan air mengalir ke got atau selokan. Artinya sampah kita akhirnya berada di selokan. Dari selokan air mengalir hingga ke kali. Dan itu berarti sampah yang kita buang akhirnya akan ke kali juga.....makanya jangan lagi buang sampah sembarangan!!!

Cara mudah berikutnya adalah MEMPERBANYAK RESAPAN AIR. Ini butuh usaha dari sekelompok orang. Tidak bisa bekerja sendiri. Resapan air ini banyak contohnya, tapi prinsipnya jangan apa-apa menimbun tanah dengan semen. Semen tidak menyerap air, dia hanya melewatkan. Seperti cerita di atas, maka seluruh air yang jatuh dari hujan akan jatuh ke kali dan tidak aneh jika kali akan meluap jika diisi terus menerus. Resapan air berguna untuk mengurangi air yang turun ke kali sehingga kali tidak cepat penuh dan luber ke jalanan. Syaratnya satu, harus ada tanah!!!

Teknik memperbanyak resapan air ada banyak, dan menurut saya yang paling efektif adalah teknik biopori. Biopori ini sangat superior, bisa mengatasi beberapa masalah sekaligus, tapi dianggap sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Jakarta. Saya tidak tahu kenapa, tapi itu pun terjadi di rumah yang saya tempati. Saya sudah membuat lubang biopori di rumah, dan berhasil mengurangi sampah organik yang dibuang, namun usaha saya tidak didukung oleh penghuni rumah yang lain, sehingga pemisahan sampah organik yang tadinya sudah berjalan, kembali seperti sedia kala kembali, bahkan lubang yang sudah saya buat, akhirnya ditutup dengan semen. Alasan awalnya disemen adalah sebagai tempat main anak kecil, tapi kenyataannya, setelah disemen, anak kecil tidak sekalipun menginjak semen tersebut, lagi-lagi sayang sekali!!! Ini bukti bahwa memperbanyak resapan air ini memang kerjaan kelompok, bukan individu!!!

Jika kedua cara di atas dilakukan dengan kesadaran masyarakat Jakarta akan lingkungannya, maka saya optimis, siklus banjir besar Jakarta yang kemungkinan terjadi tahun depan bisa dipatahkan. Sinergi antara program pemerintah daerah dengan kesadaran masyarakat akan membuat Jakarta lebih mudah mengendalikan banjir. Banjir kanal timur mudah-mudahan dipercepat penyelesaian dan koneksinya. Pengerukan dilakukan terus bukan hanya menjelang musim hujan. Dan masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan.

Selama ini manusia dituduh memutuskan ekosistem yang berlaku di alam. Marilah kali ini manusia juga memutus ekosistem penyebab banjir dengan membuang sampah di tempat sampah dan memperbanyak resapan air. Ayo patahkan siklus banjir besar, kalo kata pepatah, hanya keledai yang jatuh pada tempat yang sama dua kali. Masyarakat Jakarta sudah tiga kali. Apakah kita tidak lebih baik daripada keledai?

Senin, Februari 08, 2010

Cara Mengatasi Cegukan

Banyak orang bingung kalo lagi cegukan. Minum banyak, gak juga ilang cegukannya, malah makin kembung. Tahan napas rasanya seperti tersiksa. Akhirnya tidak berdaya dan menunggu saja dengan pasrah hingga cegukannya hilang. Tapi kalo kita lagi mau rapat penting ama klien gimana? masa bercegukan terus, bisa gawat tuh nantinya.

Beberapa saat lalu saya diberitahukan teman kerja cara paling efektif menghilangkan cegukan yang pernah saya ketahui. Mohon disimak baik-baik ya.

Pertama, usahakan ada orang lain yang bisa diminta bantuannya. Lalu ambil segelas air putih. Tahap persiapan sudah selesai. Lalu kedua jari jempol tangan anda masukkan ke kedua lubang telinga, dan kedua jari kelingking anda masukkan ke kedua lubang hidung. Ingat ya, kanan dengan kanan, kiri dengan kiri. Lalu tahan posisi tersebut dan minta tolong orang lain yang bersama anda untuk memberikan minum segelas air tadi kepada anda. Anda tidak perlu menghabiskan airnya, cukup satu dua teguk saja.

Lalu....rasakan......cegukan anda sudah hilang!!! Ya, memang semudah itu. Bukan sulap bukan sihir. Saya sudah mencoba ini empat kali sejak diberitahukan dan success ratenya 100%....

Silakan mencoba sendiri ya....semoga sukses.